Jumat, 08 Februari 2019

Cinta Bagaikan Angin - ch 9 -

                   Cinta bagaikan Angin
                             Chapter 9
                           Meraih Angin
                       By : gherimis kecil
=================================
Suara riuh para penonton yang meneriakkan nama tim baseball favoritnya mengambang ke udara. Tepukan meriah bersamaan dengan kedatangan tim favorit yang sambil melambaikan tangannya membuat suasan semakin meriah. Lampu sorot yang menerangi seluruh lapangan, membuat bayangan hitam yang akan membawa meraka ke sebuah pencapaian tertinggi.
"Mommi, ayo buruan. Pertandingannya sebentar lagi dimulai" teriak Molly menarik tangan Asha yang masih terlihat berantakan setelah sibuk mengurus kafe dan galerinya.
Ibas yang baru saja turun dari mobilnya menghampiri Asha dan Molly. Mereka tidak bisa pergi bersama-sama malam ini. Ibas harus lembur di kantor untuk membuat artikel mengenai kejuaraan baseball yang bergengsi nasional ini.
"Sabar, Molly. Mommi lagi mau pakai lipstik" jawab Asha yang mencari lipstiknya didalam tas yang isinya sungguh berantakan.
"Gak perlu pake lipstik, memangnya kamu mau terlihat cantik di depan siapa?" Tanya Ibas yang langsung mengikuti langkah Asha dan Molly.
"Papi...." Peluk Molly menghambur ke Ibas.
"Hai, Molly"
"Senang lihat Papi bisa datang"
Di depan pintu masuk, Cerryl dan Arga sudah menunggu ibu Manejernya. Mereka melambaikan tangan ke arah Asha yang masih sibuk membenarkan penampilannya.
Mereka masuk bersamaan ditengah suara penonton yang menggema. Bangku-bangku penonton sudah hampir penuh. Mereka mencari tempat duduk sesuai nomor yang tertera ditiket mereka.
"Sengaja ya pilih kursi yang didepan?" Tanya Asha pada Ibas yang sedang merapikan peralatan kerjanya.
"Biar kamu bisa motret dengan bagus dari sini" jawab Ibas yang selesai merapikan peralatannya.
"Kok jadi baik begini setelah pisah"
"Kamu aja yang baru sadar kalau aku memang baik, Sha. Semua orang juga bilang kalau kamu itu aneh. Suami baik begini minta pisah"
"Kamu itu baru kelihatan baik setelah kita pisah. Waktu kita bersama kamu itu cuek banget"
Pertengkeran seperti ini sering terjadi disaat mereka masih bersama dulu. Mereka berduapun saling memasang wajah tidak senang.
Suara peluit tanda dimulai pertandingan hari itupun terdengar ke seluruh stadion. Kemeriahan pertandingan berskala nasional itu menentukan jejak baru bagi sebuah tim baseball yang akan menjadi tim terkuat seluruh negeri. Hingga akan melanjutkan keseruan pertandingan sampai ke internasional. Impian Kai adalah menjadi pemain baseball terbaik dinegeri ini. Bermain bersama tim yang dicintainya membuat Kai semakin yakin bahwa dia tidak sendirian untuk menjadi yang terbaik. Ada anggota tim, ada Ayah dan ada teman-teman yang selalu mendukungnya. Kai melambaikan tangan kearah penonton. Hampir seluruh pendukungnya berteriak memanggil nama Kai. Degupan jantung Kai semakin kencang, perasaan yang dia tidak tahu meletakkannya dimana selain disebuah pengharapan besar untuk mewujudkan impiannya.
Bola melambunhg tinggi, hingga homerun. Pukulan Hara sebagai pukulan pembuka yang memukau. Kembali sorakan meriah terdengar dari kursi penonton. Hara berlari menuju titik awal, menerjang angin dan debu ditengah nafas yang dia coba kendalikan. Mata Kai tertuju pada sipelempar bola. Menajamkan mata demi menyeimbangkan kecepatan bola yang dia tidak tahu kapan akan muncul dihadapannya. Dan, pukulan itu nyaris tak terkena. Walaupun tidak begitu jauh. Kai mampu berlari ketumpuan kedua. Menunggu temannya bermain Kai memandang kursi penonton. Terlihat wajah yang tidak asing lagi baginya. Asha dengan seluruh kesederhanaannya bersama keluarga dan anak buahnya di Kafe Family membuat Kai semakin bersemangat.
"Lambaikan tanganmu, Kai sedang melihat kesini" kata Ibas sedikit menggoda. Asha menyikut lengan Ibas. Dan membuat Ibas tertawa. Dan seperti biasa sedetik kemudian merekapun berbaikan kembali.
Ditengah keseruan pertandingan Asha merasa iri terhadap Kai yang rela membenamkan keegoisannya untuk berhenti dan memilih bangkit kembali. Asha juga merasa tersindir, mengapa ada pemuda yang begitu mengharapkan diri bisa meraih impiannya.
Ponsel Asha bergetar. Dia melihat layar ponsel, dan membaca pesan singkat dari Senja.
"Besok datang ke galery, aku sudah mempersiapkan tempat untuk hasil kerjamu. Dan aku memintamu untuk mendapatkan hasil yang super wow untuk kuletaklan di frame terbesar. Semangat"
Kamera yang merupakan hadiah dari Kai itu dipegang Asha erat-erat. Impian dia membuka galeri adalah hal yang sudah lama diinginkannya. Dan pertandingan itu membawa Asha dalam sebuah perasaan yang sama dengan Kai. Perasaan yang tidak bisa diungkapkan.
Cekreeeeek.....
Foto itu berhasil tersimpan dalam bingkai terbesar di galeri itu. Semua tamu-tamu berhamburan datang memberikan selamat kepada Asha yang berhasil memajang karya miliknya di galeri milik Senja. Aneka makananan terhindang di meja, semua mata memandang kagum pada hasil jepretan Asha.
"Selamat, bu Manejer" ucap Kai yang tiba-tiba berada disampingnya sambil memandang foto yang diberi judul The Winner.
"Eh, terima kasih" jawab Asha dengan wajah bersemu merah.
"Aku terlihat ganteng disitu" kata Kai sambil menunjuk foto yang ada dihadapannya.
"Dan aku terlihat cantik disitu"
Mereka berdua tertawa.
Sebuah foto Kai dan Asha yang dipadukan dengan ekspresi wajah yang begitu bahagia sebagai seorang pemenang.
"Bulan depan aku akan berlatih bersama tim nasional Korea"
"Wah..sungguh. Aku senang mendengarnya"
"Mau temanin aku selama latihan disana?"
Deg...deg...deg....
Asha terdiam, dan lebih memilih diam. Suara degupan jantung itu semakin liar.
"Ajak Molly, dia fans beratnya Kim Jung Si"
"Hehehehhehe....ok" jawab Asha meredakan degupan jantungnya.
Impian itu tidak boleh dirusak oleh perasaan egois dan emosi yang sebenarnya bisa mengontrol situasi didalam diri. Biarkan impian itu terletak ditempat semestinya, tidak perlu memaksanya keluar. Karena waktunya akan tiba dengan sendirinya. Sampai impian itu menyapa kita dengan "hello!".

Tamat

Cinta Bagaikan Angin - ch 8 -

                   Cinta Bagaikan Angin
                               Chapter 8
    Pengharapan datang bersama angin
                      By : gherimis kecil
================================
Minggu pertama ini membuat Kai harus berusaha penuh untuk terapi, lalu minggu berikutnya Kai berusaha kuat untuk ikut latihan di lapangan. Hara sangat senang sekali ketika Kai memakai baju latihan mereka.
"Kantong plastiknya masih Papa simpan di gudang. Ambillah" kata Papa Kai pagi tadi.
Langit mendukung semangat Kai pagi itu, dengan senyuman Poppy dan kabar baik. Bahwa Poppy dan Hara sedang menjalin sebuah hubungan spesial. Kai merasa senang mendengarnya.
"Jadi, mulai besok aku tidak boleh lagi pergi ataupun pulang sekolah denganmu bahkan belajar bersamamu"
"Kaaaiiii.....jangan membuatku kesal. Kau tetap berada ditempat istimewa dalam hidupku"
"Tapi tidak seistimewa Hara, kan!" Goda Kai sambil tersenyum bahagia.
Sudah lama sekali bagi Poppy untuk melihat Kai tersenyum seperti itu bersamanya. Mungkin karena harapan Poppy yang terlalu tinggi terhadap Kai, sehingga menutupi semua kekurangan Kai.
Bus melaju menuju halte bus berikutnya, seperti biasa Hara datang dengan sebuah lambaian tangan yang bersamangat. Hari ini posisi tempat duduk itu berubah. Hara berada diantara Poppy dan Kai. Mereka bercerita mengenai impian dan pengharapan di akhir tahun mereka sekolah. Membicarakan ujian dan remedial yang harus segera mereka kerjakan. Merencanakan latihan dan belajar bersama seusai sekolah. Serta membuat jadwal mingguan untuk berkunjung ke Kafe Family diakhir pekan.
"Aku iri pada mereka" kata Asha kepada Arga dan Cerryl.
"Kenapa bu?" Tanya Cerryl memandang ketiga sahabat itu sambil belajar dan bercanda.
"Mereka begitu bersemangat sekali. Akh....aku rindu masa sekolah dulu" Asha membayangkan masa indah dia selama menjadi siswa.
"Bu...mereka memanggil ibu" kata Arga menunjukkan lambaian tangan Poppy dan Kai.
Asha mendekati ke meja ketiga sahabat itu.
"Bu Manejer terima kasih" Poppy dan Hara berdiri sambil membungkukkan badannya.
"Loh...ada apa ini?"
"Aku lupa memberikan ini " kata Kai mengeluarkan goodie bag berwarna merah dan menyerahkannya kepada Asha.
"Terima Kasih semuanya" kata Asha terharu. "Boleh aku buka?" Sambungnya dengan rasa penasaran.
Mereka serempak menggangguk.
Sebuah bungkusan berwarna merah dengan pita yang merayu Asha untuk ingin segera membukanya. Asha terharu melihat isi dari bungkusan merah itu, sebuah lensa kamera yang selama ini Asha inginkan dan belum kesampaian karena tidak mudah mendapatkan lensa kamera yang sangat terbatas dijual.
"Darimana kalian mendapatkan lensa ini?" Tanya Asha dengan mata yang berkaca-kaca karena terharu. Cerryl dan Arga berlari mendekati Asha.
"Wow" kata Cerryl dan Arga serempak.
"Ra...Ha...Si..a" jawab Kai.
"Hahahaha....hahahahaha...." mereka serempak tertawa.
Hari berganti hari, latihan demi latihan. Terapi demi terapi. Akhirnya dokter memberikan sebuah jawaban bahwa Kai bisa ikut pertandingan musim ini bersama timnya. Kai kembali ke lapangan disambut meriah oleh anggota timnya. Mereka saling berpelukan karena rindu seorang Kapten yang luar biasa memiliki semangat yang tinggi. Memberikan aura positif disekelilingnya.
"Selamat datang Kapten!" Kata seluruh anggota tim.
Hara menyerahkan kain berwarna kuning yang bertanda bahwa Kai adalah kaptennya untuk musim ini.
Airmata haru membuncah ke langit-langit ruang ganti di sekolah. Tidak banyak lagi waktu sampai akhirnya mereka harus bergerak cepat untuk terus latihan.
"Hari ini kita akan kedatangan seorang jurnalis dari majalah olahraga. Dia akan mewawancarai kita selama 2 jam. Meliput latihan kita serta menerbitkan tim baseball kita di majalah Sport Today" jelas Anung, selaku pelatih mereka.
"Sport Today??? Majalah olahraga nasional?"
"Iya benar sekali" Jawab Anung.
"Yeeeeeaaaaah.......hahahahhaha" mereka semua tertawa bahagia.
Tim mempersiapkan diri untuk ke lapangan. Memakai seragam lengkap. Disana sudah ada jurnalis majalah olah raga bersama kru lainnya. Ibas menyunggingkan senyumannya ketika melihat sosok yang membuat Molly dan Asha begitu mengagguminya. Ibas mendekati Pelatih dan bersalaman.
"Saya ingin mewawancarai kaptennya terlebih dahulu" kata Ibas memandang ke arah Kai.
Kai mengangguk setuju. Dan anggota tim lainnya diminta untuk melakukan sesi foto terlebih dahulu.
"Perkenalkan saya Ibas"
"Saya Kai"
Wawancara itupun dimulai. Angin bertiup lembut membawa harum semangat Kai disiang itu. Namun pandangan Kai tertuju pada kamera yang tergantung di leher Ibas.
"Boleh aku bertanya?" Tanya Kai.
"Ya"
"Hm...sepertinya aku mengenal kamera itu" tunjuk Kai melihat kamera dengan lensa yang dia yakin itu miliknya Bu Manejernya.
"Hahahaha....ini milik mantan istriku yang juga Ibu Manejermu yang kau ajak kencan beberapa waktu yang lalu" jawab Ibas sambil tertawa.
"Eh...." Kai terkejut, ternyata dia sedang berhadapan dengan mantan suami Asha.
"Ok...pertanyaan terkahir untukmu, Kai. Apa yang membuatmu kembali ke lapangan?"
"Yang membuatku kembali adalah sebuah pengharapan dari orang-orang yang aku sayangi. Membuat mereka melihatku bahagia menggapai mimpiku, serta mewujudkan impian-impian mereka sekaligus" jawab Kai.
"Baiklah...terima kasih untuk wawancarannya hari ini, Kapten Kai. Titip salam Molly untukmu. Dan Asha memintaku untuk memotretmu ketika latihan, katanya demi galerinya"
"Terima kasih" mereka saling berjabat tangan. Ada semangat yang luarbiasa muncul tiba-tiba ketika Ibas menyebutkan impian Asha.
Kai kembali ke lapangan bersama tim untuk di foto bersama. Setelah itu mereka mulai latihan, dan membiarkan mata lensa yang menangkap angin-angin yang melaju dengan kecepatan tinggi. Melambungkan bola ke angkasa, melampui batas keinginan. Ada harapan dan impian disana. Dan bola itu kembali dalam sebuah genggaman keoptimisan meraih impian.
"Mommi...." kata Molly di sebuah telepon umum di sekolahnya.
"Ya, Molly" jawab Asha.
"Aku ingin Mommi dan Papi kembali bersama" jawab Molly mengisakkan tangis yang tertahan.
"Molly, Mommi dan Papi tidak bisa bersama lagi. Tapi, kami selalu ada untuk Molly" jawab Asha dengan nafas yang tercekat di lehernya. Rasa perih menusuk hatinya. Mendengar isakan anak yang disayanginya.
"Mommi, aku mohon" kata Molly dengan airmata yang berderai.
"Molly..."
Dan mereka berdua menangis bersama diantara jaringan yang terhubung oleh ikatan perasaan yang orang lain tidak akan tahu namun mereka bisa rasakan.
Asha menutup ponselnya, kembali berbaring di kasurnya sambil menatap langit kamarnya. Malam itu, Asha mencoba mencari tempat dikesendiriannya. Dia keluar apartemennya, dan menuju taman tempat dimana dia bersembunyi bersama luka serta keperihan hatinya.
Sekaleng soda dan 2 bungkus roti menemaninya malam itu dibawah taburan bintang dilangit gelap.
"Mengapa sendirian , bu Manejer" tiba-tiba Kai mendekati bangku panjang di sisi kiri taman itu.
"Kau kesini juga?"
"Iya, ingin mencari angin. Bu Manejer mengapa kesini?"
"Sama. Aku juga mencari angin"
Mereka berdua serempak tertawa bersama.
"Bu Manejer!"
"Ya"
"Aku menyukaimu"
"Terima kasih" jawab Asha yang terdengar biasa saja. Dan Kai tidak terima dengan ekspresi datar Asha yang menganggap perasaan Kai itu hanya bercanda.
"Aku menyukaimu sebagai seorang pria" jawab Kai.
Asha memandang wajah Kai.
"Hai, Kai. Disini pertama kali kita bertemu. Melihatmu menitiskan airmata aku tahu kau sedang dilanda kesedihan yang mendalam. Disitu aku merasa harus menghiburmu dengan sebuah rasa perduli. Karena memang sepertinya saat itu yang kau butuhkan kasih sayang dari rasa keperdulian orang lain" Asha berhenti sejenak sambil meminum minuman sodanya.
"Dan aku sudah menganggapmu seperti anakku sendiri. Kau tahu, kau itu hebat. Memiliki semangat yang luar biasa, memiliki tujuan hidup yang terencana. Sedangkan Aku, seorang wanita berumur 40 tahun yang baru bisa menggapai impiannya dipenghujung tahun ini. Terkadang aku iri, mengapa kau begitu mudah untuk melangkah hanya dengan pengharapan-pengharapan orang lain, dan aku masih suka bercanda menanggapai hal seserius itu"
Asha memandang langit hitam yang berbintang.
"Jadi, aku yakin bahwa kau menyukaiku karena sosok seorang ibu yang hilang darimu, Kai"
Kai memandang takjub ke arah Asha.
"Boleh aku memelukmu, Bu Manejer"
"Boleh, pelukan sebagai seorang ibu" jawab Asha menghapus airmata harunya.
Mereka terdiam bersama sambil memandang langit hitam berbintang.
"Tadi siang aku bertemu dengan mantan suamimu"
"Oh ya. Terus apakah kalian saling berkelahi memperebutkanku" canda Asha.
"Hahahaha....jangan narsis"
Mereka berdua ketawa bersama.
Terkadang pengharapan datang bersama angin yang katanya numpang lewat.

Bersambung chapter 9.....