- Desa dan Kenangan -
Aku memutuskan untuk ikut. Aku harus kuat. Bukan karena ucapan Denni yang tidak bisa tanpaku. Ini keputusan yang kutanya langsung kepada sang penciptaku. Setelah aku memohon dalam sujudku. Alloh memberikan solusi terbaiknya. Aku ikut.
"Loh, mbak Aisah ikut" teriak Serril senang. Dan aku langsung memandang wajah Denni dengan senyum kemenangan.
"Jangan GR" lirihku kepada Denni
"Setidaknya kata-kata itu membuatmu berpikir lagi, kan"
"Jangan GR aku bilang"
Kami berkemas-kemas. Mengepak ngepak barang bahan ajar. Masalah konsep Akhsan sudah selesai mengerjakannya. Kami diberikannya proposal hasil kerjanya lalu membacanya. Denni bersiap-siap membawa mobil tim yang bertuliskan "Langit Biru Education". Serril masih sibuk dengan kertas origami dan beberapa benda-benda untuk dijadikan bahan seni. Ikbal sudah didalam mobil.
Mobil Van "langit biru Education" malaju sedang ke desa dimana aku harus bisa menerima semua kenangan itu kembali. Tepat 2 jam perjalanan. Kami menuju bibir desa. Sebuah gapura besar menyambut kami dengan tulisan "selamat datang di desa Air Bersih". Desa yang aku tinggalkan selama 20 tahun. Banyak perubahan yang terjadi. Salah satunya gapura itu. Kami harus melapor ke kantor kepala desa. Denni memarkirkan mobil van itu di halaman kantor kepala desa. Kami turut ikut masuk kedalam kantor. Kami disambut dengan ramah oleh staf dan pegawainya. Pak Yono, salah satu staff yang berkomunikasi langsung dengan Denni menyambut kami dengan leluconnya yang sebenarnya tidak lucu menurutku.
"Saya kira, bapak-bapak dan ibu-ibu ini tidak.mau kedesa kami. Saya kaget, pas Pak Denni bilang tidak jadi kesini"
"Hehehe...jadi kok pak. Kemaren hanya bercanda, Pak Yon!" Denni tersenyum
Kami dipersilahkan masuk keruangan kepala desa. Pak Mukhtar sudah menunggu kami di balik meja kerjanya. Aku memandang lurus kearahnya. Lelaki dengan tahi lalat di pipi sebelah kiri itu aku sangat mengenalnya. Dia adik dari ayahku yang keempat. Dia adalah pamanku. Mataku membesar seketika itu langkahku terhenti. Lelaki yang termasuk salah satu komplotan yang membuat trauma dalam hidupku itu ada didepan mataku. Dia takkan menyangka aku adalah keponakan yang mereka buang 20 tahun yang lalu. Kakiku masih susah untuk digerakkan, tangan Serril meraih tanganku mengajak aku masuk dan duduk. Kaku sekali, mataku tak henti-hentinya memandang wajah itu.
"Kami dari tim langit biru education akan melaksanakan tugas pendidikan luar sekolah secara gratis didesa ini, Pak" papar Denni yang berhadapan langsung dengan Pak Mukhtar.
"Iya, saya tahu. Saya juga sudah membaca isi proposal yang dikirimkan pak Wahidin seminggu yang lalu. Tapi, 3 hari yang lalu saya dapat kabar dari Pak Yon bahwa kalian membatalkan kerjasama. Mengapa sekarang kalian menyetujuinya"
"Hehehe...tidak ada apa-apa pak. Hanya masalah kecil"
"Anda yakin masalah kecil" dan akhirnya pamanku itu menatap wajahku juga. Kami saling beradu pandang dengan tatapan yang berbeda. Denni yang langsung tahu maksud Pak Mukhtar itu seketika melihat kearahku.
Aku tak tahan, rasa amarah yang aku pendam selama 20 tahun itu sepertinya bangun dari tidurnya.
Aku keluar ruangan. Mungkin akan ada tanda tanya besar diantara timku. Tapi, aku tidak perduli. Aku tak ingin meluapkan amarahku didepan timku.
Setengah jam bernegoisasi dengan pak Mukhtar, dan aku lihat mereka saling bersalaman.
"Kak Aisah. Ternyata itu paman kakak, ya! Kenapa gak bilang dari tadi sih. Aku sudah ketakutan melihat tampangnya yang seram.seperti itu. Apa lagi tahi lalatnya itu loh. Serem banget" Serril yang centil memang seperti itu, suka melebih-lebihkan.
"Sudah-sudah. Kita harus mencari rumah yang dibilang Pak Mukhtar tadi untuk menginap selama sebulan" Denni menyuruh kami masuk.kedalam mobil van itu.
Sebuah anggukan ramah dari Pak Yono melepas kepergian kami. Denni memberikan secarik kertas kepadaku. Sebuah peta.
"Kata pak mukhtar, kau tahu alamatnya"
"Aku sudah lupa" jawabku datar. Aku memang sudah lupa. Bukan karena ingin melupakan.
"Masa' kak Aisah gak inget sama sekali" Serril mendekatkan wajahnya kearahku yang sedang melihat kearah luar jendela. Lalu aku melihat sebuah lapangan yang dulu aku dan adikku bermain sepeda, sekarang sudah berubah menjadi balai pertemuan desa, tapi pohon besar itu mengingatku pada lapangan tempo dulu.
"Disinilah dia berlari kearahku" aku bergumam.
"Dia siapa kak?" Tanya Serril
"Eh...sebaiknya kita tanya saja salah satu penduduk" Denni yang tahu aku sedang bergumam tentang masalaluku langsung mengalihkan pembicaraan.
"Bener juga" kata Akhsan. Serril yang masih bingung mengabaikanku. Aku harus kuat. Aku tidak boleh kalah dengan kenangan. Aku harus kuat. Kuat, aku yakin.
Sesampainya di sebuah halaman yang luas. Ada 3 rumah disitu. Rumah yang berwarna cokelat tampak lebih besar. Lalu disebelahnya rumah cat berwarna putih. Dan disebelahnya lagi, aku tahu itu rumah siapa. Ternyata kebun jagung milik ayah dulu sudah dibangun 2 rumah.
"Kita tinggal dimana?" Tanya Serril.
"Dirumah berwarna putih itu" tunjuk Denni kerumah yang berada diantara rumah-rumah.
Aku tidak tahu, apa maksud paman meletakkan kami di sebelah rumahku dulu. Tak banyak berubah dari 20 tahun lalu. Aku mencoba kuat, tapi bayangan itu akan jelas nyata sekarang.
Kami mengeluarkan barang-barang yang kami bawa. Perbekalan selama sebulan di desa air bersih. Serril sekamar denganku, dan sisanya mereka sekamar bertiga. Denni yang terlebih dahulu permisi dengan tetangga sebelah rumah kami. Seusai Denni bersilaturahim ketetangga sebelah Denni membawa berita.
"Dengarkan aku. Ada cerita tidak mengenakkan dari sebelah rumah itu. Kata ibu-ibu sebelah rumah kita itu angker. Jadi, kalau ada yang mendengar teriakan minta tolong jangan di pedulikan ya"
"Wuuih serem banget, Mas" Serril langsung mengaitkan tangannya ke sikuku.
"Takhyul itu" Akhsan mencoba meredakn ketakutan diantara kami.
Luar biasa sekali, aku ingin tertawa rasanya. Tidak dipedulikan, itulah yang mereka lakukan dahulu. Mereka selalu tidak memperdulikan tetangga mereka yang sedang kesusahan dan butuh pertolongan. Dan aku kembali mengingat jelas bayangan itu.
Malam tiba, selesai shalat berjamaah kami mulai menyiapkan hal-hal yang diperlukan besok hari. Kami akan melakukan pembelajaran dibalai desa setelah usai anak-anak sekolah dasar pulang sekolah. Ini seperti les pelajaran tambahan untuk mereka secara gratis. Kami akan memberikan ilmu baru kepada mereka. Bukan hanya sekedar belajar menghitung dan membaca. Akan tetapi, kami juga mengajarkan prilaku, etika sopan santun, berkebun, berseni , olah raga dan masih banyak lagi. Sedangkan tugas kami bukan hanya memberikan ilmu untuk mereka. Kami harus membuat laporan yang akan dikirim kepada pak Wahidin untuk dijadikan bahan referensi alokasi dana mentri pendidikan ke desa-desa.
Setelah selesai membuat konsep dan rancangan pembelajaran untuk esok hari. Aku belum bisa tidur. Aku ingin sekali mendengar suara teriakan "minta tolong" itu. Dan aku yakin itulah suara ibu dan adikku.
"Kok belum tidur?" Suara Akhsan dari belakangku.
"Aku belum bisa tidur"
"Maafkan aku sudah marah-marah padamu tempo hari"
"Iya, aku tahu. Aku memang keras kepala. Kau tidak bersalah, ngapain juga minta maaf"
"Aku merasa tidak enak"
"Sudahlah, sebelum kau minta maaf, aku sudah memaafkanmu"
"Terima kasih. Aku tidur duluan ya" Akhsan berlalu dari punggungku.
Aku masih ingin mendengar suara itu. Dan jika memang beruntung bisakah aku diperlihatkan secara langsung pemilik suara itu.
Malam yang dingin. Malam yang membuat aku terkenang 20 tahun yang lalu. Ketika aku masih bisa bermain dilapangan bersama adikku. Tawanya yang ceria. Teringat teriakan ibu yang menyuruh kami pulang karena hampir magrib. Bukankah menyedihkan semua kenangan indah itu tergores oleh luka yang mendalam.
"Sudah malam tidurlah. Istirahat"
"Kau tahu Den. Itu rumah siapa? Itu rumah penuh kenangan bagiku"
Denni secepat kilat menuju hadapanku.
"Maksudmu? Itu rumah..." Denni menghentikan kata-kata yang aku tahu dia sudah paham maksudku.
Aku mengangguk.
"Besok kita pindah. Jadi, itu yang membuatmu banyak diam hari ini. Melamun tidak jelas"
"Dan, kepala desa itu salah satu komplotan yang menggores kenangan terindahku. Satu lagi tempat kita mengajar besok adalah tempat dimana kenangan masalalu itu tertanam dalam di hatiku. Dimana gadis kecil.itu berlari minta tolong dan aku terlambat"
"Cukup!" Denni mencoba untuk menghentikanku, tapi mulutku masih mencercau.
"Kau tahu, Den. Rumah yang kita tinggalin ini dulunya ladang jagung milik ayahku. Kami petani jagung yang sukses. Semua iri dengan hasil jagung kami yang besar dan banyak. Dan itulah awal dari ..."
"Cukup aku bilang. Tak perlu kau bicara lagi. Masuk kamar. Besok sebelum mengajar, aku akan mencari rumah baru untuk kita. Sudah..sudah...istirahatlah. Aku tak ingin airmata itu jatuh lagi. Tidurlah"
Denni yang masih menungguku untuk bangkit dari dudukku menatapku lesu. Airmataku jatuh seketika.
"Aku rindu mereka" aku menutup seluruh wajahku dengan telapak tangan. Menahan keperihan ini sendiri.
"Ada aku. Masih ada aku disini. Jangan sedih" Denni menepuk pundakku pelan. Dan itu setidaknya sebagai tanda penguatan untukku.
Denni memang pantas dijadikan ketua dalam tim ini. Walaupun sikap tegasnya yang membuatnya seperti diktator. Dia mempunyai hati yang lembut. Perhatian kepada anak buahnya. Dan bukan kepadaku saja.
kumpulan-kumpulan tulisanku yang sebenarnya tak berupa tulisan...hahahaha selamat membaca!!! semoga bermanfaat eaaah....
Senin, 25 Januari 2016
B
A
- tersebut nama desa itu -
"Sudah aku katakan, Den. Aku tidak akan pernah kembali lagi kedesa itu"
"Ayolah, Sah. Ini demi pendidikan. Bisakah kau singkirkan egomu itu"
"Tidak, maaf. Aku tidak bisa"
"Kau ini. Keras kepalamu saja yang kau pakai. Sesekali pakai nurani berpikirmu"
"Den, seharusnya kau tahu mengapa aku tidak bisa ke desa itu lagi"
Pertengkeran aku dengan Denni berakhir dengan bantingan pintu kamarku yang keras. Dan aku masuk kekamar, sholat dua rakaat. Aku menangis tersedu disepanjang sajadah pemberian paman Syaikh. Seorang paman yang sudah kuanggap ayahku sendiri. Dia mengajari banyak hal tentang hidup. Tetapi, dia tidak mengajarkanku tentang bagaimana menyembuhkan rasa luka dan trauma dalam diriku yang sudah berkarat hampir 20 tahun lamanya. Aku masih menangis, dan mataku lelah. Lalu tertidur. Dalam tidurku aku melihat ibuku yang sedang tersenyum. Lalu dia membelai kepalaku. Disana juga ada adikku yang sedang bermain boneka. Itu wajah adikku ketika umur 5 tahun. Aku tidak tahu bagaimana wajahnya setelah dewasa ini.
"Bu...aku rindu" gumamku dalam mimpi itu.
Ibuku masih tetap tersenyum padaku.
"Rindu, bu. Rindu rumah kita didesa" aku hampir menangis. Aku harus kuat pikirku saat itu yang hanya didalam mimpi.
"Tok...tok..." sebuah ketukan pintu yang membuyarkan mimpiku yang bertemu dengan ibu dan adikku. Tapi, aku tak membalas ketukan itu dengan apapun. Suaraku akan terdengar aneh ketika aku menyahut ketukan itu.
"Sah, maafkan aku. Aku sudah membatalkan kerja sama dengan Pak Wahidin. Maafkan aku"
Aku terperanjat, kata "membatalkan" itu adalah sebuah aib yang harus Tim kami hindari. Kurapikan mukena dan sajadahnya. Lalu aku membuka pintu kamar dan menemui Denni yang sedang duduk disebelah pintu kamarku.
"Kau bilang tadi, membatalkan?"
"Iya, sudah kubatalkan" raut wajah Denni berubah menjadi sedih. Aku tahu betul si Denni. Ketua Tim yang sangat tegas dan tidak ada yang bisa membatahnya. Diktator, tidak juga. Tapi, keputusannya adalah kekal. Jika A maka A.
"Mengapa?hanya karena aku tidak mau kedesa itu lagi. Kau membatalkannya. Kan masih ada Akhsan, Serril, dan Ikbal. Tanpaku Tim ini juga pasti berjalan"
"Tidak, yang namanya Tim adalah kerjasama. Tidak mementingkan keegoisan individu. Salinh pengertian dan memahami"
"Den, jangan merasa sungkan seperti itu. Hanya karena gara-gara aku tidak mau kedesa itu"
Kembali, tidak ada titik temu apa yang harus aku putuskan. Sebaiknya aku mengadu kepada Paman Syaikh. Sore itu setelah selesai berbicara memakai perasaan dan pikiran. Aku memutuskan kerumah paman Syaikh. Jalan sore itu becek sekali. Sisa hujan tadi siang. Kubangan-kubangan air membayangi warna langit yang masih mengabu. Angin yang dingin menusuk tulangku. Diatas sepeda motor aku mulai berbicara sendiri. Ini adalah kegemaranku berbicara sendiri tanpa harus memperlihatkan gerak bibir. Ya, aku berbicara dengan diriku sendiri. Mencoba menerima kenyataan tentang pertengkaranku dengan Denni dan Tim kami harus membatalkan kerjasama dengan Pak wahidin.
Sesampai dirumah paman Syaikh, aku memarkirkan sepeda motorku tepat dihalaman samping kiri cakruk bambu yang disebelahnya ditumbuhi pohon rambutan yang berusia sangat tua, bahkan lebih tua dari usiaku yang 28 tahun ini.
"Assalamualaikum"
"Wa'alaikumsalam" sebuah sahutan yang aku kenal sekali suara Bibi Yani.
"Bi, apa kabar?"
"Oalah, Aisah toh. Bibi kangen sekali. Kabar bibi baik-baik aja, nak. Kamu gimana?"
"Baik juga, Bi. Paman ada?"
"Ada...ada...yowes, masuk dulu. Biar Bibi panggil. Pamanmu lagi nonton tivi. Lagi nonton ceramah ustadz sejuta umat itu. Katanya memorinya kembali kemasa muda dia dulu" jelas Bibi Yani sambil cekikikan kecil.
Aku hanya membalas dengan "hehehe" sambil menunjukkan gigi-gigi putihku. Bibi masuk keruang yang lebih dalam. Pikiranku sedikit tenang setelah masuk kedalam rumah yang sudah membesarkanku selama 9 tahun. Karena setelah itu aku harus keasrama untuk melanjutkan kuliahku di bidang pendidikan. Dan aku mendapatkan fasilitas asrama. Paman Syaikh masih seperti terakhir yang aku lihat. 3 bulan yang lalu. Ketika itu aku juga sedang merasa risau pada suatu keputusan. Dan ketika aku bercerita kepada paman syaikh banyak memberi masukan. Dan hari ini juga aku meminta masukan dari beliau.
"Paman, sehat?"
"Sehat, nak. Kamu bagaimana?"
"Secara fisik sehat, tapi.."
"Secara pikiran lagi risau, gitu" Paman Syaikh tahu betul. Seperti bisa membaca pikiran orang lain.
"Begini paman" aku tidak suka berbasa basi. Aku langsung bercerita kepada paman Syaikh. Dan beliau mendengarkan semua ceritaku. Dari pertengkaranku dengan Denni. Keputusan Denni yang tiba-tiba membatalkan. Dan tentang mimpi bertemu dengan ibu dan adikku. Paman hanya mengangguk-angguk kecil. Mencoba memahami cerita yang aku lontarkan kepadanya.
"Kau masih belum bisa berubah. Keras kepalamu itu loh, nak. Paman tau, ada kalanya keras kepala itu dipakai. Tapi, bukan saat ini. Pikirkan Tim yang sudah kalian bina selama 5 tahun lebih itu. Keras kepala hanya akan membuat runyam. Masalah lukamu didesa itu. Nak, ini sudah 20 tahun berlalu. Bisakah kau maafkan desa itu? Dia hanya korban dari orang-orang itu. Itu hanya sebuah desa yang butuh uluran tangan kalian. Pendidik-pendidik seperti kalian. Itu hanya sebuah desa. Bisakah kau berpikir ulang kembali tentang keputusanmu itu, nak"
Aku terdiam , berpikir tentang ucapan paman Syaikh. Ya, itu hanya sebuah desa. Tapi, bagiku itu adalah nama sebuah kenangan yang harus aku lupakan. Dan sampai ucapakan paman Syaikh berakhir, rasa sakit itu belum juga tertepis.
Aku hanya mengagguk sedikit ragu.
"Kau masih ragu, nak?. Shalat malamlah. Minta petunjuk Alloh itu lebih baik. Paman hanya memberi masukan. Masalah putusan akhir itu kau yang tentukan. Ini hidupmu, bukan hidup paman. Hidupmu, kaulah yang menuliskannya. Kau paham, kan Nak!"
"Iya, paman. Aku paham. Terima kasih"
Aku pamit, Bibi dan Paman mengantarkanku sampai depan pintu rumah mereka. Senyuman mereka sangat aku sukai. Senyuman tulus dari seorang orang tua yang sedang didatangi anaknya yang sudah lama tidak pulang.
Di basecamp. Denni dan Akhsan dengan berbicara. Dan aku yakin itu sangat serius. Karena aku melihat raut wajah Akhsan yang sedikit marah.
"Nah, ini dia orangnya" Akhsan tiba-tiba berkata demikian dan aku menghentikan.langkahku.
"San, jaga bicaramu!" Denni tahu nada bicara Akhsan sedang dalam keadaan emosi.
"Sudahlah, mas. Jika memang Aisah tidak mau berada di tim ini. Biarkan saja"
Aku terperanjat dengan kata-kata yang dilontarkan Akhsan. Aku tahu betul Akhsan. Karena aku yang menemukan potensi Akhsan ketika dia masih kuliah. Tapi, hari ini. Aku.melihat Akhsan yang lain.
"San, kamu harus sopan"
"Aku udah sopan, mas. Yang aku omongkan juga sopan. Jika Aisah merasa tersinggung itu urusannya"
Aku masih belum bisa berbicara. Tidak ingin membalas keketusan perkataan Akhsan. Aku tak ingin bertengkar lagi. Lelah. Aku masuk kedalam rumah dan mengacukan Akhsan yang masih terlihat emosi.
"Lihat toh, mas. Dia pergi begitu saja. Mbok ya disauti gitu" aku masih mendengar suara Akhsan yang tiba-tiba meninggi. Aku tahu, akhsan marah sekali. Tapi, kenapa sampai semarah itu kepadaku.
"Sudah..sudah...nanti malam kita rembukkan masalah ini"
Setelah mendengarkan keputusan Denni, sepertinya emosi Akhsan menurun. Tidak lagi aku mendengar suara percakapan mereka. Itu bertanda suasana sudah kondusif.
Malampun tiba, Denni sebagai ketua Tim memberitahukan setelah shalat Isya' akan ada rapat. Di ruangan yang biasanya kami melakukan rapat besar ataupun rapat kecil. Denni duduk diujing kanan sebagai tanda seorang ketua. Aku duduk berhadapan dengan Serril. Dan Ikbal diseblahku. Sedangkan Akhsan belum datang.
"Sebentar, ya. Akhsan masih didalam perjalanan. Katanya macet"
Kami mengangguk serempak.
15 menit berlalu, Akhsan dengan tas ransel.kesayangannya sudah tiba.
"Maaf semuany. Tadi macet sekali. Ada mobil dan truk tabrakan"
"Iya..." balas Denni tersenyum.
Dan Tim yang sudah kami bentuk selama 5 tahun ini pun memulai pembicaraan. Masalah keputusan Denni yang tiba-tiba menolak permintaan Pak wahidin. Dan sudah dipastikan tentang masalahku yang tidak mau kedesa itu.
Pembicaraan ini adalah pembicaraan tersengit kedua setelah 5 tahun bersama.
Ikbal buka bicara mengenaiku yang tidak mau kedesa itu.
"Kak Aisah kan sudah dewasa. Kenapa sih kak dibuang rasa keras kepala kakak itu"
Begitu juga Serril sependapat dengan Ikbal. Aku tahu mereka pasti akan menyalahkanku tentang hal ini. Aku masih belum bisa menjelaskan kepada mereka. Hanya, Denni yang tahu kejadian yang sebenarnya. Akhsan, Serril dan Ikbal hanya tahu desa itu tempat tinggalku yang membuat aku trauma untuk datang kembali. Mereka tidak tahu bahwa aku harus menanggung perih sampai selama ini.
Denni mencoba berpikir. Dia diam. Aku tahu dia juga bingung. Aku harus beranikan diri berbicara, agar masalah ini selesai.
"Sebenarnya tanpaku, kalian juga bisa pergi kesana. Di tim ini, aku hanya sebagai pelengkap saja, kan. Masalah hubungan kemasyarakat ada Denni yang bisa mengatasinya. Masalah konsep mengajar ada Akhsan yang ahlinya. Masalah breaking ice ada Ikbal. Kesenian ada Serril. Dan aku yakin kalian juga bisa mendidik anakkan. Kita ini pendidik, kan! Jadi tidak masalah jika aku tidak ikut"
"Tapi, kita ini tim. Sah!" Denni kembali membicarakan arti sebuah Tim.
Senyap, tak ada tanggapan. Semua terdiam ketika Denni mengatakan hal itu. Akhsan yang awalnya emosi menundukkan kepala. Begitu juga Serril dan Ikbal.
"Jadi keputusannya?" Serril angkat bicara.
"Kalian akan tetap berangkat tanpa aku" tandasku dengan keberanian besar.
Mereka mengangguk setuju. Aku puas sekali. Tapi, Denni masih diam. Dia pasti marah atas keputusanku.
Usai rapat semua kembali kerumah masing-masing. Sedangkan Basecamp akulah yang menjaganya. Akhsan dan Ikbal mengantar Serril pulang kerumah karena sudah larut malam. Denni yang masih berdiri didepan pintu rumah.
"Aku yakin kalian bisa kok tanpaku" aku mencoba memulai pembicaraan. Karena sepanjang rapat Denni tak banyak bicara. Ada hal yang masih membebaninya.
"Tim akan tetap berjalan tanpamu. Tapi---"
"Tapi apa?"
"Tapi aku gak bisa harus pergi tanpamu"
Aku berdiri kaku, pernyataan Denni membuat seluruh badanku kelu tak dapat bergerak. Mengapa Denni menjadi semanja ini.
"Sebaiknya kau pulang Den. Kau ingat janji tim ini. Karena aku yakin kau tak mungkin lupa. Karena kau sendiri yang membuatnya kan. Profesionalitas dalam tim" aku masuk kamar den meninggalkan Denni sendiri mematung di mulut pintu basecamp kami ini. Tak tahu raut wajah yang dipancarkan Denni saat ini. Aku lebih baik menghindar dari percakapan yang tidak berguna ini.