"eh, ngapain sih ngikutin aku terus!" Kesal Reo kepada Asha.
Langkah Asha terhenti seketika. Dia tak punya teman lagi di sekolah barunya ini. Hanya Reo, teman kecilnya dulu.
"Kamu malu?" Tanya Asha menundukkan kepalanya.
"Aku gak mau orang lain menganggap kita pacaran"
Deg....
Hati Asha terasa sakit.
Reo melanjutkan langkahnya menuju kantin, meninggalkan Asha yang sedang bermuram hati karena perkataan Reo. Asha kembali ke kelas, duduk melamun menatap keluar jendela. Berpikir dan bertanya.
'Apa salahnya dengan anggapan orang lain. Bilang saja malu berteman denganku'.
"Sha!" Panggil Nimo, cowok keren yang kepopulerannya melebihi justin biber.
Asha menoleh, Nimo tersenyum.
"Ada apa?"
"Jadi ikut club teater kan?" Tanya Nimo sembari memberikan formulir pendaftaran anggota teater.
"Aku masih bingung, Nimo. Tahu sendirikan jadwal teater itu padat dan disiplin lagi. Takutnya aku gak mampu"
"Ya, ampun. Kan ada aku. Kita sama-sama masih junior"
"Tapi, kamu uda terkenal duluan. Jadi, mereka harap maklum dengan kepopuleranmu"
"Jangan ngaco akh. Isi formulirnya. Aku tunggu pulang sekolah di ruangan club teater"
Kesedihan yang terjadi tadi hilang sudah dengan kedatangan Nimo, yang tidak malu menjadi temannya.
Harapan muncul untuk mempunyai teman baru akan segera tiba. Asha tidak akan sendiri lagi. Dengan wajahnya yang sangat cantik itu, Asha amat tidak disukai oleh teman-teman perempuan. Asha begitu mendominan ketika berkumpul dengan mereka, sehingga teman-temannya merasa minder dan tak berarti. Itu bukan maunya Asha untuk terus-terusan didekati oleh teman-teman prianya. Mereka sendiri yang datang menghampiri Asha hanya untuk sekedar menyapa.
Bel pulang sekolah telah tiba. Nimo yang sudah menunggu Asha di dalam ruangan teater terlihat gusar. Sesekali melihat kearah pintu. Namun, Asha tak kunjung datang. Nimo hampir putus asa. Ketika pintu ruangan terbuka, terlihatlah Asha memasuki ruangan. Nimo bangkit dari duduk, semangatnya tumbuh dan segera Nimo melambaikan tangannya. Asha segera menuju ke arah Nimo. Mereka saling lempar senyuman.
"Terima kasih, ya!"Kata Nimo. Asha hanya mengangguk pelan. Acara penyambutan anggota baru di club begitu antusias. Banyak siswa baru yang mendaftar sebagau anggota teater. Karena club teater di sekolah ini sudah terkenal dan memiliki banyak prestasi. Jadi, untuk bisa memasuki clubnya harus memiliki tingkat disiplin yang tinggi, loyalitas terhadap club dan harus memiliki semangat yang tinggi serta bisa bekerja sama dengan tim.
Ketua club, Kak Vero memberikan kata sambutan kepada para pelamar anggota club. Kak Vero memiliki wajah yang tegas dan berbadan tegap. Sesuai dengan posisinya sebagai ketua club.
"Kita adalah tim, ingat T.I.M. Bekerja sama, loyalitas , disiplin dan semangat yang tinggi. Itulah sebabnya kita mampu meraih semua prestasi-prestasi itu" Kak Vero menunjuk kearah foto-foto seluruh anggota teater sedang memegang piagam kemenangan mereka setiap tahunnya.
Dan kata-kata motivasi itulah menjadi penutup pertemuan pertama ini. Dan akan dilanjutkan ke sesi berikutnya. Penyeleksian anggota baru.
Nimo tampak senang, karena dia sudah terbiasa berakting. Karena dia juga merupakan selebritis dan model terkenal. Sebab itulah, kepopuleran Nimo bisa menjadi kelebihan untuk diterima di club teater ini.
Sekarang giliran Asha memasuki ruangan. Disana sudah duduk Kak Vero, Kak Dila, dan Buk Kyle merupakan pembina club teater juga pemain teater nasional. Asha gerogi. Tangannya tak henti-hentinya berkeringan. Kepercayaan dirinya sedang diuji.
"Oh, ini si Ratu Asha"
Asha menoleh kearah Kak Dila. Perkataan itu bukan pujian, melainkan cibiran bagi Asha.
Julukan Ratu itu tersemat indah sejak SMP, hingga kini masuk ke SMA julukan itu masih tersemat dengan rapinya.
"Silahkan ambil, skripnya. Lalu tempo 1 menit kamu bisa melakonkan apa yang diperintakan skripnya" kata Buk Kyle menunjuk skrip yang ada dihadapannya.
Asha memilih lembar skrip yang paling bawah. Lalu Asha membaca isi skripnya. Ada kelegaan diraut wajah Asha. Ini kemampuannya sejak dulu. Bernyanyi. Asha diperintahkan untuk bernyanyi dengan penuh penghayatan sehingga pesan yang dinyanyikannya tersampaikan kepada semua orang.
Asha menarik nafas pelan, lalu menghembuskannya cepat. Asha langsung menumukan lagunya britney spears yang lucky. Dengan penuh percaya diri Asha mulai bernyanyi dan bersama gerakan-gerakan tubuh yang dramatis.
Susasan hening ketika Asha menyelesaikan tugasnya. Kak Vero dan Buk Kyle bertepuk tangan dan seraya berdiri. Terkagum-kagum melihat gadis yang berbakat.
"Kenapa gak jadi artis saja?" Tanya Kak Vero.
"Reo melarang saya jadi artis" jawab Asha.
"Siapa Reo?pacar kamu?" Tanya Buk Kyle.
"Teman saya"
"Oh, baiklah. Dua hari lagi pengumumannya. Semoga kamu lulus" kata Kak Vero tersenyum manis kearah Asha.
Asha keluar dari ruangan dengan wajah yang memuaskan.
"Jangan kegenitan kepada anak baru, Vero. Aku gak suka" kesal Dila.
Nimo melambai-lambaikan tangannya kearah Asha.
Asha melihatnya , segera saja dia mendekati Nimo.
"Gimana tadi?"
"Hm" Asha mengacungkan jempol keudara.
"Hahahaha....semoga kita lulus ya" kata Nimo kesenangan.
Mereka berjalan menuju gerbang sekolah. Sore ini terlihat cerah, matahari masih melukiskan semburat oranye di tepi barat. Angin yang sejuk. Ditambah dengab suasana hati yang sedang bergembira.
"Asha!" Panggil Reo dari parkiran motor guru.
Asha menoleh kearah Reo.
"Ada apa?"
"Maaf yang tadi ya"
"Gak apa-apa kok"
"Yuk, pulang bareng" Ajak Reo
"Kita pulang bertiga ya. Nimo juga naik bus yang sama"
"Nimo" Nimo mengulurkan tangannya.
"Reo" Reo menyambutnya.
Sembari menunggu bus datang. Nimo dan Reo saling bercerita. Ternyata mereka cocok. Memiliki hobi yang sama, tae kwon do. Reo merupakan asisten pelatih di club tae kwon do, sedangkan Nimo sudah lama berlatih tea kwon do di kalangan selebritis. Jadi, Asha hanya mendengarkan pembicaraan laki-laki pecinta tae kwon do. Terkadang mereka melakukan gerakan-gerakan aneh menurut Asha. Sesekali mereka tertawa terbahak-bahak. Dan tak terasa buspun tiba. Sesampai didalam bus, mereka sengaja duduk paling belakang hanya untuk menyambung cerita mereka.
"Asha, kamu kok diam saja?" Tanya Nimo
"Aku gak ngerti apa yang kalian bicarakan"
"Hahahaha, Asha ini memang cantik. Cuma ya gitu, tahunya hanya nyanyi saja" celetuk Reo.
"Udah berapa lama kenal dengan Asha?" Tanya Nimo.
"Sudah 15 tahun. Dari oek-oek, bahkan kami lahir dirumah sakit yang sama, diruangan yang sama. Untung saja tidak tertukar. Hahahahahah"
"Kebanyakan nonton sinetron kamu" kesal Asha.
"Jadi sudah seperti teman dekat ya"
"Dekat banget , hahahahahhaha" Reo masih tertawa.
"Terus apa kamu pernah suka dengan Asha?" Tanya Nimo.
Pertanyaan Nimo itu membuat Asha terdiam dengan wajah kaget. Pertanyaan yang keluar dengan polosnya dari bibir Nimo. Asha merasa sesak didadanya. Pikirannya mulai bertanya-tanya. Jawaban apa yang akan di katakan Reo.
"Gak lah. Hahahahahha. Gadis cengeng seperti dia tidak cocok denganku. Dia terlalu manja. Hahahahaha" kembali Reo tertawa terbahak-bahak.
Asha menahan sesak didadanya. Jadi , selama ini pertolongan-pertolongan itu hanya sebagai rasa kasihan dan kecengengan Asha semata. Asha menahan airmatanya. Rasa sedih itu menjalar keseluruh tubuhnya. Wajahnya merautkan kesedihan yang terdalam.
"Bagaimana kalau aku suka dengan Asha?" Tanya Nimo. Kembali lagi Asha kaget dengan perkataan Nimo.
Reo terdiam, tawanya tercekat oleh pertanyaan Nimo. Ingin rasanya Reo meminta Nimo untuk kembali mengutarkan pertanyaannya. Namun, bibirnya langsung berkata.
"Silahkan. Tapi, kamu harus siap mental. Karena Asha itu seperti hantu yang selalu mengikutimu. Hahahaha" dibalik tawa ada keganjalan di hati Reo.
Bus berhenti, perbincanganpun tehenti. Nimo permisi untuk turun duluan. Karena harus berganti bus lagi. Tinggallah Asha dan Reo yang saling diam. Tak ada percakapan hari ini setelah turunnya Nimo dari bus. Bahkan setelah mereka turun dari bus dan menuju kerumah hanya derapan langkah kaki mereka yang terdengar. Kecuali pernyataan terakhir Reo sebelum masuk kedalam rumahnya.
"Sha, mulai besok kamu pergi dan pulang sendirian ya. Aku merasa tidak enak dengan Nimo yang sudah blak-blakan mengatakan perasaany tadi di bus"
"Tapi..." Asha terhenti. Itu permintaan yang diinginkan Reo selama ini. Menjauh dari Asha.
"Sudahlah. Selamat sore, dah!!!" Reo masuk kedalam rumahnya dengan dada yang penuh sesak.
Begitu juga Asha berlari ke kamar tidurnya dengan isakan tangis yang menyedihkan. Sahabatnya memintanya untuk menjauh darinya.
Ini, hari yang menyenangkan sekaligus menyedihkan.
********
Pagi beranjak, dua hari berlalu. Sembari menunggu pengumunan seleksi anggota teater. Asha duduk di depan mading. Membaca satu persatu pengumunan. Dan Asha melihat pertandingan Tae Kwon Do antar sekolah yang akan diadakan minggu depan di SMA timur. Melihat pengumuman itu, Asha teringat dengan Reo yang sejak saat itu tidak pernah lagi pulang bersama mereka. Ternyata Reo sibuk latihan untuk pertandingan Tae Kwon do antar sekolah.
"Hai Lucky" sapa Kak Vero yang membawa kertas pengumuman.
"Eh....Kak Vero" Asha yang sedang melamun terhenyak melihat Kak Vero yang sedang berdiri didepannya.
"Selamat ya, Lucky" Kak Vero tersenyum manis.
"Aku lulus ya, Kak?" Tanya Asha penasaran.
"Iya. Hanya 10 orang yang lulus"
"Nimo bagaimana?"
"Mana mungkin dia tidak kami luluskan. Aktor berbakat. Hehehehe. Sekali lagi selamat ya"
Setidaknya kabar gembira ini mampu menghibur kesedihan hatinya.
"Kapan mulai latihan kak?"
"Sudah kakak tulis di lembar pengumunan. Sudah ya. Kakak kembali ke kelas dulu"
"Iya" Asha tersenyum senang membaca hasil pengumumannya. Kabar gembira ini harus segera sampai kepada Nimo.
Asha kembali ke kelas, tidak melihat Nimo disana. Ke kantin juga tidak ada. Ke perpustakaan juga tidak ada. Ke toilet, sengaja Asha menunggu di depan toilet pria. Bahkan dari beberapa siswa pria menggodanya untuk masuk saja.
Nimopun muncul dari dalam toilet, dengan hati yang sedang senang. Asha meraih tangan Nimo dan bersorak.
"Kita lulus"
Nimo masih bingung.
"Kita lulus apa?"
"Lulus masuk teater"
"Apaaaa????"
"Iya beneran"
Asha dan Nimo melompat-lompat gembira. Namun, dibalik pintu toilet ada mata yang sedang memandang iri dengan kegembiraan mereka berdua. Rasanya dia tidak rela melihat kegembiraan itu muncul di wajah mereka.
Nimo dan Asha kembali ke kelas dengab wajah gembira. Setelah Asha membertahukan bahwa besok jadwal latihan mereka kepada Nimo, datanglah Kak Dila dengan wajah cemberut dan kesal.
"Asha, aku peringatkan ya. Jangan pernah menggoda Vero. Ok"
"Eh...." Asha terkejut.
"Ada apa sih?" Tanya Nimo heran.
"Kasi tau temenmu ini ya, Nimo. Jangan genit dengan pacar orang lain"
Asha terdiam.
Plaaaak....sebuah tamparan melayang kearah Dila. Tangan besar Reo menempel keras dan membekas.
"Asha tidak serendah itu, Veromu saja yang kegenitan. Ingat itu" Reo murka melihat Asha diperlakukan seperti perempuan rendahan. Memang, Asha selalu di kelilingi laki-laki. Akan tetapi Asha selalu berusaha untuk menjauhi mereka yang genit-genit.
Suasana sekolah mendadak senyap. Hanya terdengar rintihan sakit yang dirasakan Dila.
"Daaasaaar preman gila" Kesal Kak Dila yang langsung pergi karena malu.
Nimo merasa terkejut melihat tindakan Reo yang akan membuatnya diskorsing selama 3 hari.
Suasana hening berubah menjadi haru ketika Asha menitiskan airmatanya.
"Sudahlah jangan cengeng" Reo megusap-usap kepala Asha. Dan berlalu pergi.
"Sha, sudah jangan nangis lagi" kata Nimo.
Nimo membawa Asha kedalam kelas dan menenangkan hati Asha.
"Aku keluar saja ya dari teater. Belum apa-apa, aku sudah punya musuh. Memang aku tidak pernah cocok dengan perempuan"
"Sudahlah. Gak perlu dipikirkan. Kamu harus tetap ikut teater. Temanin aku disana. Ok!" Kata-kata Nimo itu memang jitu untuk meredakan hati Asha yang bersedih. Namun, dibalik itu semua pembelaan Reo merupakan bertanda bahwa Reo masih ada disekitarnya untuk membelanya selalu. Tapi, lain halnya dengan Nimo. Ada rasa kesal yang mendalam , mengapa dia tidak begitu sigap melawan cercauan seniornya itu. Ada rasa takut untuk menghentikan cercauan itu.
*********
3 hari Reo tidak bersekolah. Ada rasa tidak enak mengganjal di hati Asha. Sepulang sekolah ini, Asha akan menemui Reo dirumahnya. Dan meminta maaf atas kejadian tempo hari..
"Reo gimana kabarnya?"tanya Nimo didalam bus.
"Aku belum ada menjenguknya. Rencana hari ini"
"Aku ikut ya!"
"Eh...." Asha bingung harus menjawab apa.
"Boleh ya. Ada yang mau aku berikan juga kepadanya. DVD pertandingan tae kwon do tingkat nasional. Beberapa hari yang lalu dia minta tolong kepadaku untuk mencarikan DVD pertandingan nasional. Ternyata pelatihku menyimpan DVDnya. Makanya hari ini ingin aku berikan"
"Baiklah" Asha mengangguk pelan sambil tersenyum.
Sesampai di depan rumah Reo. Asha memberanikan diri melangkahkan kakinya ke rumah Reo. Ini untuk kali keduanya Asha datang ke rumah Reo. Biasanya Reo yang selalu datang ke rumah Asha. Reo tinggal bersama ayahnya yang merupakan mantan atlit tae kwon do tingkat nasional. Namun, sekarang ayahnya menjadi pelatih dan menjual perlengkapan tae kwon do yang berada ditengah kota. Ayahnya seminggu sekali akan pulang untuk menjenguk Reo.
Ketukan demi ketukan tak ada sahutan dari dalam rumah.
"Sebentar" kata Asha masuk melalui samping rumah. Benar feeling Asha, bahwa pintu samping tidak pernah dikunci oleh Reo.
Asha masuk melalui dapur, dan menuju keruang depan lalu membukan pintu untuk Nimo.
"Loh kok bisa?"
"Pintu samping selalu tidak dikunci"
"Kok kamu tahu"
"Reo selalu bilang padaku. Kalau ke rumahnya masuk dari pintu samping. Karena dia selalu di kamar atas untuk latihan"
Nimo masuk sambil melihat sekeliling. Wajahnya tercengang. Banyak sekali piagam penghargaan milik keluarga Reo. Ternyata Nimo mengenal ayah Reo yang pernah menjadi pelatih di klub selebritis itu. Asha mengajak Nimo keatas. Rumah yang sepi.
Reo terlihat sedang latihan dilantai dua. Ruangan besar itu memang khusus untuk latihan tae kwon do. Reo menghentikan latihannya setelah melihat Asha dan Nimo berada di bibir pintu ruang latihan.
"Hai..." sapa Nimo
"Hai, bagaimana permintaanku"
"Ini aku bawakan" Nimo membongkar tasnya dan memberikan DVD pertandingan tae kwon do yang Nimo janjikan.
"Aku akan membuat minuman dan cemilan" kata Asha kembali kebawah dan menuju dapur.
Sedangkan Reo dan Nimo mulai menonton video pertandingan tingkat nasional itu.
30 menit berlalu, Asha selesai dengan pekerjaannya membuat minuman dan cemilan. Asha kembali ke lantai dua. Dan tangannya bergetar melihat tangan Reo sudah ada dileher Nimo yang kesakitan.
"Hentikan...hentikan....ada apa dengan kalian" Asha heran dan ketakutan.
Reo dan Nimo tidak menghiraukan Asha yang mulai gemetaran ketakuan.
Sekarang Nimo membalas dengan mengunci kaki Reo sehingga ada celah untuk melepaskan diri dari capitan lengan Reo. Ini sesi duel antara Reo dan Nimo. Tidak tahu permasalahannya apa, yang Asha tahu itu merupakan tindak kekerasan kepada manusia.
"Hiks...hiks...hikss...sudah hentikan. Aku mohon"
Reo dan Nimo melihat ke arah Asha yang menangis. Tampang heran mereka mendadak berubah menjadi tawa menggelegar.
"Hahahahaha...." mereka tertawa bersama.
Asha mengusap airmatanya.
"Kami hanya sedang latihan" kata Nimo menepuk bahu Reo.
"Dasar cengeng. Heran juga mengapa ada cowok yang suka dengannya. Hahahahha"
Wajah cemberut Asha terihat jelas. Menambahkan kegemasan dengan pipinya yang tembam memerah menahan marah.
Seusai latihan dan makan cemilan serta meminum teh buatan Asha. Nimo langsung berpamitan pulang karen hari sudah semakin sore. Asha mengantar Nimo sampai depan pintu rumah Reo. Dengan senyuman termanis Nimo berpamitan seraya mengingatan Asha.
"Minggu depan temanin aku casting model ikan ya" kata Nimo mengerlingan matanya.
Asha tak menjawab segera hanya senyuman yang terpancar dari wajahnya. Punggung Nimo sudah tak terlihat lagi, Asha kembali masuk ke dalam rumah Reo. Menapaki anak tangga. Suasana menjadi berubah. Kecanggungan antara mereka terlihat jelas sekali. Reo yang sedari tadi melanjutkan melihat video pertandingan tae kwon do. Sedangkan Asha berpura-pura melihat video juga, padahal pikirannya entah pergi kemana-mana.
"Minggu depan datanglah ke pertandingan"
Asha masih pura-pura melihat video, dia juga mendengar apa yang dikatakan Reo. Namun, dia tidak mau menjawab. Masih ada rasa kesal dihatinya. Rasa kesal itu tidak tahu tumbuhnya darimana. Sudah sejak kapan rasa kesal itu muncul juga Asha tidak tahu. Segera Asha bangkit.
"Maafkan aku" kata Reo digemangnya nada suara yang dia getarkan.
Asha terhenti. Tangannya mengepal erat. Ubun-ubunnya tiba-tiba memanas.
"Buat apa belain aku. Buat apa? Kasian. Aku gak perlu dikasianin. Kalau pembelaan itu buat kamu di skor 3 hari begini. Lebih bai tidak perlu kamu bela. NGERTI" amarah Asha memuncak. Matanya menguraikan airmata yang tak terbendung. Asha menangis.
"Sudah kubilang jadi cewek jangan cengeng" Reo bangkit dan mendekati Asha.
"Apa pedulimu!" Asha mulai berteriak.
"Jika Nimo tak sanggup membuatmu bahagia dan mengusap airmatamu kembalilah kepadaku. Kamu harus merasakan hal yang lain, maka kamu akan tahu rasa apa yang kamu berikan kepadaku apakah melebihi rasamu ke Nimo. Aku akan memiliki rasa yang tetap sampai kamu menua nanti. Ini bukan gombalan, ya" kata-kata Reo membuat isakan Asha terhenti. Walaupun di tidak mengerti apa yang dikatakan Reo. Namun, ketika Reo mengusap-usap kepalanya itu bertanda hubungannya dengan Reo tidak akan berubah.
Ada yang merasa dia telah tiba diwaktu yang salah diantara orang yang salah.
"Sorry, tapi ini perasaanku. Aku akan berusaha mewujudkkannya" katanya dalam hati. Segera dia keluar dari rumah itu dan tidak jadi mengambil kunci kamarnya yang tertinggal di ruang latihan Reo.
Sore yang berat untuk perasaan yang terbagi-bagi. Ada semburat kebahagiaan , namun ada juga secercah kesedihan.
*****
Nimo berjalan lunglai menuju kelas. Hari dimana masih mengingat perkataan Reo di ruang latihan. Perkataan yang seharusnya tidak didengarkannya. Sesampai dikelasnya, Nimo langsung memilih tidur dibangkunya. Melupakan kata-kata itu, kata-kata yang membuat hatinya tidak enak. Nimo kembali mengingat pertemua pertamanya dengan Asha di lapangan sekolah yang penuh keriuhan. Dia melihat Asha yang sedang duduk sendiri. Seperti tidak ada teman, maka segera dia menghampiri gadis manis itu. Mereka mengobrol panjang. Mengenai sekolah dan hobi mereka. Ternyata mereka memiliki hobi yang sama, yaitu Teater. Sejak saat itu ada getaran aneh merasuki hati Nimo. Takdir begitu mudah mempertemukan mereka berdua di dalam keramaian.
"Nimo!" Panggil Asha yang sudah di sebelah bangkunya. Nimo mengangkat kepalanya.
"Ada apa?"
"Jawaban kemarin, aku tidak bisa menemanimu casting model iklan"
"Baiklah"
Asha heran melihat raut wajah Nimo, tidak seperti biasa.
"Kamu baik-baik saja?"
"Apa aku terlihat baik-baik saja"
"Tidak. Ada apa denganmu?"
Nimo tidak menjawab. Perasaan tak enak hati juga merasuki Asha saat itu.
"Apa kamu marah dengan jawabanku"
"Hm...gak kok" akhirnya Nimo menyungingkan senyumannya. Nimo tahu kalau Asha menjadi tak enak hati kepadanya.
"Maaf ya"
"Tak perlu minta maaf. Memangnya kamu mau kemana minggu depana"
"Aku mau menemani Reo ke pertandingan tingkat sekolah"
Nimo sudah menduga jawaban itu. Nimo hanya mengangguk-anggukan kepalanya.
" Kalau aku sempat aku akan datang kesana juga"
"Terima kasih" senyun Asha mengembanng. Ada rasa kelegaan dihatinya. Semua berjalan baik-baik saja. Tidak bagi Nimo, sesak sekali. Apakah begini rasa cemburu. Membanding-bandingkan dirinya dengan Reo. Nimo itu kurang apa. Cerdas, tampan dan populer. Tak ada lecet sedikitpun. Tapi, mengapa wanita itu lebih memilih tetap bersama Reo yang begitu urakan dan bergaya preman. Bahkan untuk menandingi dibidang akademik jelas Reo jauh berada dibawah Nimo yang mendapatkan peringkat kedua juara umum.
kumpulan-kumpulan tulisanku yang sebenarnya tak berupa tulisan...hahahaha selamat membaca!!! semoga bermanfaat eaaah....
Senin, 03 April 2017
Teman yg hilang
Senin, 20 Maret 2017
Young in Shelter
---------- the begining -----------
Siang ini kerumunan anak-anak berseragam putih biru membanjiri papan pengumuman hasil tes masuk sekolah asrama yang sangat terkenal dan di favoritkan. Matahari yang terik, keringat yang bercucur dan kelelahanpun hadir. Namun, kelelahan itu terobati ketika nama mereka yang mengikuti tes ujian tertera di papan pengumuman itu. Dan wajah lesu seolah-olah mau kiamat besok hari ketika nama mereka tida tercantum di sana.
Ada lima anak yang mempunyai keanehan ketika nama mereka tercantum di sana. Salah satu dari mereka ada yang tercengang melongo dengan memasang wajah kaku, tak mengira dia akan lulus dalam tes ujian ini. Padahal dia sendiri tidak yakin akan hal itu, nilai-nilai rapotnya saja sangat miris sekali. Bahkan orang tuanya sudah angkat tangan dengan nilai-nilai tersebut. Lalu, ada yang girang bukan kepalang. Impiannya terwujud masuk sekolah asrama, bertemu dengan orang baru. Keramahannya, diapun menjabat semua orang yang sedang berada di depan papan pengumuman. Yang ketiga, menangis sejadi-jadinya. Suaranya tangisannya amat sangat mengganggu orang-orang sekitar. Airmatanya meleleh bak air sungai yang mengalir tanpa bebatuan. Deras namun tak berarah kemana tangisan itu tertuju. Yang keempat, menarik nafas pelan-pelan. Lalu melihat namanya tidak tercantum disana. Loh, akal busuknya pun muncul. Ada sebuah nama yang sama persis dengan namanya. Nomornya juga hanya berjarak satu angka. Ternyata kembarannya yanh lulus. Dengan memohon kepada kembarannya, bersujud dihadapan kembarannya yang sangat pendiam itu. Akhirnya, kembarannya menginyakan keinginannya. Dan akal bulus diapun mengubah segalanya. Dia mengganti identitasnya untuk selama 3 tahun kedepan. Dan yang terakhir, dengan senyum menyunging. Ini bukanlah masalah besar baginya. Dengan setengah mata dia memandang hasil ujiannya. Dan benar saja tebakannya. Dia lulus dengan lancar diurutan pertama.
Kelima anak ini bertemu di kamar yang sama. Kamar itu bernama Shelter 305. Berada dilantai 3 asrama laki-laki tepatnya di ruang kelima yang berada di ujung lorong.
Keesokan paginya.
Mereka membawa seluruh pakaian dan peralatan sekolah. Hari terakhir bertemu dengan orang tua. Masa perponcloan selama 6 bulan tidak boleh bertemu dengan orang tua dan sanak saudara. Ada yang menangis. Ada yang tidak rela. Ada yang biasa-biasa saja. Ada juga yang senang kepalang, seperti keluar dari penjara.
Tepat pukul satu, semua siswa baru berkumpul di aula sekolah. Membawa perbekalan dari rumah. Ramai sekali. Calon penghuni Asrama laki-laki dan wanita dikumpulkan menjadi satu. namun dipisahkan oleh tingkat ruangan. Pengisi Asrama laki-laki di tingkat dua dan pengisi asrama wanita di tingkat satu. Aulanya besar sekali mampu menampung 2000 orang. Aula yang beralih fungsi menjadi lapangan olah raga tertutup ketika ada event olah raga antar sekolah. Dan disulap lagi menjadi acara ceremonial kelulusan kelas akhir. Semua memandang takjub. Tahun ini, hanya 100 orang yang di terima. Untuk laki-laki 50 orang begitu juga wanita. Sistem ini akan mempermudah pendataan. Jika ada yang lebih dari kuota setiap anak, maka kepala asramalah yang bertanggung jawab.
Suara sirine aneh berbunyi. Ternyata, ada layar kain besar berwarna kuning terbuka perlahan-lahan. Disana sudah duduk dengan berjejer rapi menghadap anak murid. Podiumnya besar sekali. Dan ada sebuah mimbar kecil ditengah podium. Bisik-bisik keributab terhenti. Tak ada lagi anak-anak yang saling mengobrol. Mata mereka tegak luruh memandang sejurus podium itu.
Seorang berambut putih lebat dengan kacamata menempel aneh dihidup. Seperti hendak merosot kebawah, namun terganjal dengan gumpalan lemak di sekitaran perut hidung. Beliau berdehem pelan.
"Selamat pagi, anak-anak!" Sapanya dengan suara beratnya. Terdengar berwibawa dan bijaksana.
"Selamat pagi, Pak!" Sahut seluruh siswa baru dengan semangat. Kecuali si rambut aneh itu dengan tampang sinisnya menganggap ini hanyalah upacara orang-orang kelas bawah. Maklum dialah si anak bernilai tinggi itu.
"Selamat datang di sekolah Asrama Himawari. Disekolah ini membutuhkan siswa dan siswi yang berakhlak mulia bagi masyarakat sekitar. Bukan hanya dituntut untuk meraih prestasi dibidang akademik akan tetapi mengubah sikap remaja yang labil menjadi sikap yang memiliki tujuan hidup untuk kedepan. Kami sebagai tenaga pendidik, tidak berharap kalian menjadi koruptor ataupun hal-hal yang menjurus kearah sikap yang tercela. Kami hanya inginkan kalian menjadi siswa yang cerdas dalam menyempurnakan kehidupan kalian dengan cara yang lebih baik dan benar. Sekali lagi, selamat datang di sekolah asrama Himawari. Kami berharap, kalian betah untuk tinggal di asrama kami ini. Terima kasih"
Semua siswa bertepuk tangan setelah beliau turun dari mimbar kecil itu. Ternyata dialah kepala sekolah di sini.
Seorang bertubuh besar, kekar , dan memiliki raut wajah yang tidak menyenangkan. Cemberut. Merupakan kepala asrama laki-laki. Lalu disebelahnya, seorang wanita gemuk, pendek dengan bibir tipis serta tahi lalat dibawah bibir menunjukkan betapa cerewetnya wanita itu.
100 siswa di giring langsung ke gedung asrama mereka masing-masing.
Lelaki yang tinggi tinggi itu dengan suara lantang.
"Bawa semua peralatan kalian. Ikutin saya"
Semua anak laki-laki mengikuti kepala asrama mereka. Setelah sampai depan gedung asrama kepala asrama memberikan sebuah kotak berisi nomor kamar mereka masing-masing.
"Ambil salah satu kertas didalam kotak ini. Jangan dibuka sebelum saya perintah" kata kepala asrama itu dengan tegas.
Semua berkata "iya" dan langsung mengambil secara acak kertas didalam kotak berwarna cokelat itu. Bergiliran. Dan sebuah kertas terlipat sudah ditangan. Menunggu aba-aba dari kepala asrama.
"Baiklah, semua sudah menerima kertasnya. Lalu buka. Dan segerlah mencari kamar kalian berdasarkan nomor yang tertera dikertas itu"
Semua calon penghuni asrama laki-laki bersigap membuka kertas itu. Melihat 3 angka yang tertera. Memandang kanan kiri , bersegera mencari kamar dengan angka yang tertera di kertas itu. Berlarian. Tak terkendali, berhimpit-himpitan menunggu didepan kamar yang terkunci.
Setelah, calon penghuni asrama laki-laki itu telah lengkap berkumpul. Maka beberapa senior mereka memberikan kunci kepada pemegang angka berwarna merah. Ada 10 anak yang memegang angka merah. Termasuk, si lelaki berperingkat nilai tertinggi itu. Gayanya yang masih memandang sinis teman-temannya langsung meraih kunci kamarnya. Serta mengambil buku peraturan sekolah untuk dibagikan dengan teman sekamar.
Akhirnya lengkap sudah penghuni kamar shelter 305.
Tak menyangka shelter 305 , itu bukan hanya sekedar kamar yang terdiri dari 2 tempat tidur tingkat dan 1 tempat tidur tambahan. Didalam shelter, terdapat 5 kamar, 2 kamar mandi, 1 dapur, 1 ruang nonton santai sambil menonton tv, 1 ruang loundry, dan memiliki balkon yang cukup besar serta ada space kecil untuk menjemur pakaian. Ini diluar dugaan mereka.
Lima orang aneh itupun masuk kedalam shelternya. Perabotan lengkap.
"Uwaaaaah....keren banget ini. Eh...eh...sebelum masuk kamar. Kita kenalan dulu. Aku Joa" kata anak yang menjabat semua tangan orang-orang yang disekitaran papan pengumuman tadi. Pertama Joa menjabat tangan Hadan, si jenius pendiam itu.
"Hadan"sambil tersenyum sinis.
Semua mata memandang ke Hadan. Kaget, terutama Neal si laki-laki yang menangis karena lulus tes ujian.
"Kamu Hadan, si peringkat pertama ya?" Tanya Neal dengan mata berbinar-binar
Hadan mengangguk malas.
"Aku Neal. Aku pengagum beratmu. Kamu dari SMP unggulan, kan"
Hadan mengernyitkan dahinya. Bertanda betapa herannya dia mengapa Neal tahu dia bersekolah dimana.
"Aku Brain" kata si curang Brian, yang menukar namanya menjadi Brain demi masuk ke sekolah asrama. Dengan senyum jahilnya itu dia mulai menampakkan kelagatnya , bahwa tak ada yang mampu mengalahkannya tentang kejeniusan, Hadan bakalan lewat.
Dan yang terakhir yang sedari tadi hanya menundukkan kepalanya. Anak yang langsung kepojokan setelah namanya tertera di papan pengumuman. Tak berani menatap matahari, bukan itu saja. Menatap lawan bicaranya saja dia tidak bertahan lama.
"Eh, nama kamu siapa?"tanya Joa mendekati laki-laki pemalu itu sambil menepuk pundaknya.
"Qiu" jawabnya sambil menunduk malu.
"Oke. Semua sudah saling kenal. Sebaiknya kita hom pimpa untuk memilih kamarnya" kata Joa seolah-olah dialah ketuanya. Dengan semangat yang menggebu-gebu Joa menarik semua tangan teman sekamarnya untuk melakukan hom pimpa.
"Hompimpa alaium gambreng" kata Joa dengan suara lantang.
Untuk putaran pertama tidak ada yang menang. Hingga putaran ke lima, Qiu berhasil memilih kamar pertama. Qiu mendekati kamar yang dipilihnya. Dekat dapur. Lalu putaran berikutnya Brain. Memilih kamar dekat kamar mandi. Selanjutnya Joa memilih kamar dekat balkon. Hadan mendapatkan kamar paling dekat dengan pintu shelter. Dan yang terakhir Neal, seperti sudah takdir saja. Dimana ada idola disitu pasti tidak jauh dengan fans. Begitulah kamar Neal yang berhadapan dengan kamar Hadan, idolanya.
Mereka memberesi barang-barang yang dibawa dari rumah. Meletakkan sekoper baju didalam lemari. Menyusun rapi buku-buku dirak buku yang terletak bersebelahan dengan meja belajar yang sudah lengkap dengan komputer.
Setelah mereka memberesi barang-barang mereka. Barulah, Hadan memberikan buku peraturan sekolah. Ada 50 butir surat dan 135 ayat. Ini sungguh luar biasa. Ini sudah melebihi ajaran militer.
"Apa bangun jam 5 pagi. Haduh, matilah aku" Joa menepok jidatnya.
"Wah bagus ini setiap pagi ada olah raha" Neal bersemangat.
"Hah!!!apa-apaan ini, 6 bulan gak boleh ketemu siapa-siapa?" Brain mengeluh.
Tidak dengan Hadan dan Qiu mereka menyermati setiap surat dan ayat untuk diingat.
"Kita masak sendiri ya?", Tanya Neal.
"Iya" jawab Hadan.
"Kapan belanjanya?" Joa angkat bicara.
"Surat 15 ayat 3 itu jawabannya" kata Hadan.
Semua memandang aneh Hadan. Baru 20 menit membaca peraturan sekolah. Hadan begitu cepat menghapal. Wajar, jenius. Brain malah tidak senang. Baginya itu hanya ajang pamer kejeniusan. Memuakkan.
"Ada jadwal belanja setiap harinya."
"Jangan-jangan ada tukang sayur yang lewat asrama kita. Semoga aja mbak-mbak cakep. Hahahahhaha" Joa tertawa sambil membayangkan dia membeli seikat kangkung dengan penjual mbak-mbak cakep.
Hadan mengeluarkan secarik kertas dengan tabel yang terisi hanya ada jam dan hari. Tabel itu diberi judul 'jadwal piket'.
Lalu, ada lembaran berikutnya. Yang berjudul 'jadwal masuk kelas'. Dibagikannya ke semua teman satu shelternya. Mereka sedang membaca.
"Ini gimana sih?" Tanya Joa.
"Kamu pilih pelajaran apa yang mau kamu ambil. Ingat catat nomor kelasnya. Biar gak kesasar" jawab Neal.
"Terus?" Brain juga kebingungan sebenarnya. Dia tak mampu mencerna hal ini. Yang dia tahu bagaiman membuat ulah diasrama ini dengan kemampuan akal jahilnya.
"Dipilih aja dulu, kasi tanda centang. 3 pelajaran wajib itu , mau gak mau harus diikuti"
"Ya, ampun kenapa pelajaran mengerikan menjadi pelajaran wajib. Matematika, bahasa indonesia serta bahasa inggris" Brain mengeleng-gelengkan kepala.
Mereka sedang asik memilih pelajaran yang mereka minati. Memilih muatan lokal. Memilih ekstrakulikuler. Memilih club sekolah.
Setelah itu mereka mencocokkan agenfa untuk piket di shelter.
Hadan yang jenius langsung mengambil alih. Naluri ketuanya keluar.
"Hari senin siapa yang tidak masuk pukul 08.00?"
Keempat temannya melihat jadwal.
"Aku" jawab Qiu.
"Untuk hari senin, kamu yang buat sarapan pagi, ya!"
Qiu menangguk.
Pengelompokkan itu buntu setelah hari Kamis tidak ada yang masak untuk sarapan. Mereka bertuduhan siapa yang pantas masak. Bahkan hompimpapun tak kunjung membuahkan hasil.
"Untuk hari kamis , kita barengan masaknya" Qiu menunduk.
"Ide bagus"
"Berarti hari kamis hari gotong royong aja. Sama2 bekerja" ide Joa begitu brilian. Mereka mengangguk-angguk setuju.
Jadi, intinya siapa yang piket sarapan harus belanja membeli kebutuhan sayur mayur. Dan itu harus diirit, karena mereka mendapatkan jatah uang belanja dari sekolah yang sama disetiap shelter. Uang belanja akan diberikan setiap hari minggu. Berarti besok piket merek sudah dimulai.
Semua kembali menyusun rapi peralatan mereka. Ada yang mandi, ada juga yanh sedang memandang matahari terbenam ke jendela luar. Ada yang sedang menikmati mimpinya. Waktu bebas untuk bersantai sebelum makan malam tiba.