Jumat, 08 Februari 2019

Cinta Bagaikan Angin - ch 6 -

                     Cinta Bagaikan Angin
                              Chapter 6
        Kejutan itu datang bersama angin
                      By : gherimis kecil
================================
Langit biru bercahaya pagi ini, kicauan burung bersahut-sahutan. Seraya semesta sedang menyambut sebuah usia kedewasaan. Disana, diperjalanan menuju sekolah. Poppy mengikuti langkah kaki Kai yang jenjang.
"Kai...." panggil Poppy dari belakang.
"Ya" Kai menoleh kebelakang.
"Selamat ulang tahun" Poppy menyerahkan kado berwarna biru langit kepada Kai sambil tersenyum kearah Kai.
"Terima kasih" balas Kai melontarkan senyuman terima kasihnya.
Poppy tetap menjadi orang pertama mengucapkan selamat ulang tahun kepada Kai setiap tahunnya.
"Boleh aku buka?" Tanya Kai membolak balik dan menggoyang-goyangkan kadonya itu.
"Tidak boleh. Kau boleh membuka kadonya setelah pulang sekolah"
"Baiklah. Aku akan mentraktirmu makan di kafe Family tempat aku bekerja paruh waktu"
"Benarkah!!" Betapa bahagianya Poppy mendengar ajakan Kai itu.
"Iya, ajak juga Hara ikut bersama kita" pinta Kai.
Seketika itu juga raut wajah Poppy berubah. Kai tidak mengetahui bahwa hubungannya dengan Hara tidak sedang berjalan baik. Sudah hampir seminggu Hara dan Poppy tidak saling berkomunikasi. Semua itu disembunyikan agar Kai tidak khawatir dengan mereka berdua. Baik Hara dan Poppy sama-sama memilih untuk diam dan tidak menceritakan kejadian beberapa hari yang lalu.
"Ok" jawab Poppy langsung berlari ke kelas.
Cerryl dan Arga tiba lebih awal dari jam kerja mereka. Janji hari ini adalah membuat kue untuk ulang tahun Kai. Cerryl dan Arga menunggu Asha di dapur, mereka sudah menyiapkan peralatannya dan tinggal menunggu bahan-bahan yang dibeli oleh menejer mereka. Asha tergesa-gesa berlari masuk ke dalam kafe dengan nafas yang tersengal-sengal.
"Mengapa ibu manejer berlari?"
"Aku takut terlambat. Maaf ya, aku harus menjemput kado ini terlebih dahulu" Asha menunjukkan sebungkus kado berwarna biru langit yang dia keluarkan dari dalam tasnya.
"Waah...ibu sudah membeli kado ya"
"Hu um...." jawab Asha sambil memberikan seluruh bahan-bahan membuat kue.
"Isinya apa bu?" Tanya Cerryl penasaran.
"Ra...ha...si...a. hahahahhaha" jawab Asha menuju dapur.
Mereka mempersiapkan dengan hati yang gembira. Kafe hari ini dibuka lebih lambat daripada hari biasanya. Pelanggan juga belum ada terlihat berdatang karena memang mereka memasang tulisan close didepan pintu kafe.
Kai terkejut bahwa kafe Family hari ini tidak buka. Keheranan Kai juga terlihat ketika Poppy hanya datang sendirian tanpa Hara.
"Dimana Hara?" Tanya Kai pada Poppy.
"Aku tidak tahu" jawab Poppy resah atas kebohongan pertamanya ini.
"Ternyata kafenya tutup"
"Apakah mereka tidak memberitahumu bahwa hari ini tutup?"
"Seharusnya mereka memberitahuku"
"Tapi, mengapa pintu samping terbuka" kata Poppy mencoba mencari tahu sambil menunjuk pintu samping yang terbuka sedikit.
Kai masuk dari pintu samping dan mengajak Poppy juga mengikutinya. Suasana ruang kantor Asha begitu sepi. Lalu Kai menuju dapur, tak terlihat siapapun disitu. Tiba-tiba saja lampu mati. Kai dan Poppy terkejut.
"Selamat ulang tahun, Kai" teriak Arga dan Cerryl bersamaan. Tak lama kemudian lampu kembali menyala.
Sebuah kue berbentuk baseball mengundang tanda tanya besar didalam benak Kai.
"Ayo Kai potong kuenya" seru Arga semangat.
Namun Kai tidak menghiraukan permintaan Arga. Matanya sibuk mencari seseorang yang ingin dilihatnya hari ini.
"Selamat ulang tahun, Kai" terdengar suara Asha dari balik pintu dapur.
Kai tersenyum lebar melihat Asha datang bersama sebuah kado berbungkus biru langit. Poppy yang melihat itu merasa cemburu. Bagaimana ada orang lain yang tahu warna kesukaan Kai selain dirinya.
"Terima Kasih, manejer"
"Boleh aku buka?" Tanya Kai.
"Sebelum kau membukanya, lebih baik kau potong dahulu kuenya. Arga sudah kelaparan karena ingin mencicipi kue ini"
Kai pun menuruti permintaan Asha. Sambil memotong kue Poppy melihat raut wajah Kai begitu berubah drastis. Kai yang dingin begitu bersemangat menyunggingkan senyumannya berkali-kali. Poppy merasa ada persaan yang disembunyikan oleh Kai selama ini. Mereka memakan kue berbentuk bola baseball itu. Poppy tahu perasaan Kai ketika melihat yang berkaitan dengan baseball. Poppy yakin bahwa baseball akan membuat Kai terluka. Maka kado yang diberikannya bukanlah hal yang berkaitan dengan baseball. Tapi, sore ini Kai begitu menikmati kue baseballnya.
Asha pamit ke toilet membersihkan wajahnya yang berlumur cream putih. Keisengan Kai itu semakin membuat Poppy iri. Seberapa dekatkah hubungan Kai dengan wanita yang baru dikenalnya itu.
Poppy mengikuti Asha ke toilet. Sesampai di toilet, Poppy langsung bertanya kepada Asha.
"Boleh aku tahu, hubungan anda dengan Kai?"
"Eh, jangan buat kaget seperti itu. Seharusnya kau mengetuk pintunya dulu"
"Maaf"
"Hubunganku dengan Kai adalah sebagau seorang manejer dan karyawan"
"Tapi aku tidak pernah melihat Kai tersenyum dengan nyaman seperti hari ini"
"Kau sahabatnya Kai?"
"Iya"
"Apakah kau tahu Kai sangat menginginkan baseball?"
"Iya aku tahu. Tapi, semua itu menjadi benci karena cidera tangannya"
"Dia tidak pernah membenci baseball. Yang dia takutkan ketika orang-orang membencinya karena baseball. Kau belum memperkenalkan dirimu. Aku Asha, usiaku sudah 40 tahun. Dan kalian lebih pantas menjadi anakku"
Poppy terdiam, penjelasan Asha ada benarnya.
"Poppy, 17 tahun"
"Oh iya Poppy, apakah kau tau boyband yang lagi booming dikalangan remaja?"
"Eh...itu"
"Dua bulan lagi anakku ulang tahun, aku ingin mengajaknya menonton konser boyband yang lagi disukainya. Tapi, sayangnya dia tidak terbuka denganku. Aku ingin membuat kejutan"
Poppy tersenyum. Lalu dia membisikkan nama boyband yang lagi populer dikalangan remaja itu.
"Terima Kasih"
"Tante!" Panggil Poppy.
Asha melongos ketika mendengar kata tante keluar dari mulut Asha.
"Panggil aku ibu menejer saja. Kami juga lagi butuh seorang karyawan. Apakah kau bersedia mengajukan lamaran?"
"Benarkah!!!"
"Iya"
"Terima Kasih bu manejer"
"Terdengar menyenangkan dipanggil seperti itu daripada yang tadi"
Mereka berdua saling tertawa.
Suasana dapur menghening. Kai mematung ketika melihat isi kado yang diberikan oleh Asha. Sebuah bola baseball bertanda tangan pemain favorit Kai dan secarik kertas bertulis tangan. Kai membaca isi surat itu, dia menangis. Melihat Kai menangis Cerryl dan Arga juga ikutan menangis.
Asha dan Poppy melihat kejadian itu ikutan mematung.
"Bu manejer" isak Kai menghapus air yang keluar dari hidungnya.
"Ya" jawab Asha mendekati Kai.
"Terima Kasih" Kai menghamburkan pelukannya kepada Asha. Sehingga membuat Asha terkejut. Bahkan Cerryl , Arga dan Poppy juga terkejut.
"Sudah...sudah...jangan menangis", bujuk Asha sambil menepuk punggung Kai dengan pelan.
"Bagaimana ibu bisa mendapatkan ini?" Tanya Kai menunjukkan bola dan secarik kertas.
"Hm...itu....ra...ha...si..a. hahahahaha"
"Ibu manejer memang hebat, Kai. Tahun lalu dia memberikan aku kado sebuah CD album limited edition milik penyanyi favoritku"
"Betul-betul.....aku juga diberikannya benang wol yang warnanya itu harus dipesan dengan harga yang fuantastis. Tapi, ibu menejer mendapatkannya secara gratis"
Arga dan Cerryl memeluk Asha dengan kehangatan cinta mereka.
Mereka menghabiskan malam itu bersama kebahagiaan sebuah mimpi yang hampir punah. Kejutan itu memang menyapa seperti angin menyapa hari dengan lembut dan melindungi raga daei teriknya sinar mentari.
Setibanya di rumah Kai melihat Papanya sedang memasak sesuatu. Aroma yang dikenal Kai langsung tercium.
"Bubur pedas" Kai menebak. Diapun berlari menuju dapur.
"Pa..." panggil Kai.
"Makanlah. Selamat ulang tahun"
"Terima Kasih, Pa"
"Ada kado besar untukmu di kamar"
"Oh ya...."
"Tapi, makanlah dulu"
"Ok"
Suasana hati Kai yang selama ini tersembunyi sepi. Kini seperti berwarna kembali. Sebuah carik kerta yang berisi kalimat yang mampu membuatnya kembali bersemangat.
Suap demi suap, bubur pedas buatan Papanya berhasil Kai habiskan. Rasa penasarannya akan kado besar yang diberikan oleh Papanya itu membuatnya ingin segera masuk ke kamarnya. Dibukanya pintu kamarnya dan dinyalakannya lampu. Kai berdiri mematung melihat kado besar itu.
Semua anggota tim baseballnya berkumpul dikamarnya. Hara memimpin didepan. Mereka memakai seragam tim baseball sekolah mereka.
"Selamat Ulang Tahun , Kapten" semua mengucapkan secara bersamaan.
Mata Kai berkaca-kaca melihat seluruh anggota tim baseball berkumpul dikamarnya. Udara semangat semakin menguap ke langit-langit kamarnya. Mereka satu persatu memeluk Kai.
"Kapten mengapa kau menangis?" Tanya salah seorang junior di tim mereka.
"Kapten itu sedang terharu, Jun" jawab salah seorang dari mereka.
Malam bahagia itu dihabiskan dikamar Kai yang cukup sempit untuk ditempati 10 orang bertubuh tinggi.
" Ada yang ingin aku katakan padamu, Kai" kata Hara menarik lengan Kai menuju ke balkon kamar.
"Apa itu?"
"Sebenarnya Aku dan Poppy sedang kacau. Hubungan kami dalam kerumitan"
Kai mengerutkan dahinya. Dia tidak paham dengan kalimat yang Hara lontarkan.
"Ada apa sebenarnya? Dan mengapa kau tadi tidak ikut bersama Poppy?"
"Tadi Poppy menurunkan egonya demi mengajakku. Aku dan Poppy sedang dalam kerumitan. Jadi, kami memutuskan untuk tidak saling menyapa, berkomunikasi ataupun bertatapan langsung"
"Aku tidak mengerti"
"Dengarkan aku. Aku menyukai Poppy, tapi Poppy selalu melihat ke arahmu."
"Maksudmu?"
"Poppy lebih memilih perasaan yang tak terbalas dibandingkan aku yang jelas nyata baginya"
"Kau dan Poppy?"
"Kai, apakah kau pernah menyukai seseorang?"
"Saat ini aku sedang menyukai seseorang"
"Apakah seseorang itu menyukaimu?"
"Dia belum menjawab, tapi dia selalu berkata bahwa kami tidak cocok karena jarak yang begitu tidak memungkinkan"
"Itu berati secara tidak langsung dia menolakmu"
"Jika dia menolakku, mengapa dia memberikan aku kado yang begitu spesial!"
Hara terdiam.
"Begitu juga Poppy, Kai. Aku pernah mengatakan padanya sebaiknya dia memilihku daripada kau. Sejak itulah Poppy menghindar dariku"
Sekarang Kai yang terdiam. Dia lebih mencerna perkataan Hara mengenai hubungannya dengan manejernya itu. Daripada harus memikirkan kerumitan kalimat tentang hubungan Hara dan Poppy. Kai, tahu posisinya sebagai sahabat diantaranya. Dia tidak memihak siapapun, karena dia yakin kedua sahabatnya itu sebenarnya sudah tahu jalan keluarnya.
Ponsel Asha berdering beberapa kali, nama Senja tampil dilayar ponselnya.
"Halo, sahabatku" sapa Asha yang masih di ruang kerjanya.
"Tugasmu cari momen yang paling berkesan. Sehingga hasil jepretanmu layak masuk ke galeriku" ujar Senja di balik ponsel.
"Maksudmu, hasil jepretanku boleh masuk ke galerimu jika aku menemukan momen yang berkesan"
"Iya, bukan hanya sekedar kodok melompati paret ataupun kupu-kupu dimakan laba-laba. Lebih dari itu"
"Benarkah!!!" Seru Asha dengan senang.
"Waktumu 6 bulan, Sha. Aku tidak ingin kau membuat para pengunjungku kecewa"
"Tapi....bagaimana aku bisa mendapatkanya"
"Anak SMA itu"
"Anak SMA? Maksdumu Kai?darimana kau tahu aku....jangan-jangan aku memerikasa isi laptopku yang berisi jepretan Kai?"
"Kau menyukai anak itu, kan!"
"Apa kau bilang, bukannya kau membenci anak SMA itu. Kau bilang tidak ada manfaatnya menghabiskan waktu dengn remaja yang merepotkan. Kita ini bukan babysitter mereka. Kau...kau ini"
"Hehehehe, aku memang tidak setuju kau berhubungan dengannya dalam hal asmara. Tapi, aku setuju memanfaatkan perasaanmu untuk memgambil gambarnya"
"Kau, jahat sekali. Senja"
"Demi impianmu, Sha. Tidak masalah kau memanfaatkan perasaanmu itu"
Kejutan - kejutan itu datangnyaa bersama angin. Berlahan tapi pasti menyejukkan.

Bersambung chapter 7.....

Cinta Bagaikan Angin - ch 7 -

                    Cinta Bagaikan Angin
                               Chapter 7
       Jalinan angin itu bernama impian
                         By : gherimis kecil
=================================
"Papa sudah konsultasi dengan doktermu kemarin. Jika kau ingin ikut pertandingan di musim terkahirmu ini, kau harus rajin terapi ke rumah sakit" Kata Papa Kai yang sedang membaca koran pagi ini.
"Aku tidak ingin bertanding lagi, Pa"
"Apakah kejutan mereka saat kau ulang tahun belum cukup menyakinkamu untuk kembali bertanding?"
Ternyata Poppy yang sedang menunggu dipintu luar tak sengaja mendengar percakapan mereka di ruang santai. Tangan Poppy mengepal, Dia kesal mengapa Kai begitu lemah seperti ini.
"Mereka menaruh harapan besar kepadaku. Tapi aku tidak yakin dengan kondisiku" jawab Kai meraih tas sekolahnya yang terletak di sofa santai.
"Papa berharap kau bisa ikut bermain musim ini" Papapun beranjak dan pergi meninggalkan Kai yang mematung.
Impian Papa adalah ingin melihat Kai menjadi Atlit Baseball seperti adiknya dahulu. Kai juga mengenal Baseball dari pamannya Aru. Adik Papanya itu merupakan atlit baseball nasional, namun karena kecelakaan pesawat ketika pergi bertanding ke luar negeri. Harapan Papanya pun pupus bersama angin berita itu.
Poppy yang sudah lama menunggu diluar terkejut melihat kedatangan Kai yang tiba-tiba.
"Kau menungguku?" Tanya Kai pada Poppy.
"Iya"
Merekapun pergi bersama ke sekolah. Seperti pagi-pagi biasanya. Poppy akan bercerita mengenai tugas dan PR yang belum dia kerjakan. Memburu Kai untuk berlari segera ke halte bus agar datang lebih awal. Tapi, pagi ini Poppy ingin sekali berkata bahwa dia menginginkan Kai kembali ke lapanagan.
"Hara sudah cerita kepadaku" tiba-tiba perkataan Kai itu menyekat keinginan Poppy pagi ini.
"Itu...." Poppy menghentikan langkahnya.
"Mengapa kau tidak mencobanya?"
"Aku belum bisa"
"Hara pria yang baik. Kita sudah saling kenal sejak kecil. Apa salahnya kau mengabulkan permintaannya. Jika tidak cocok untuk menjadi sepasang kekasih, lebih baik menjadi sahabat"
"Tidak semudah itu, Kai"
"Segalanya lebih mudah kalau memang saling menerima"
"Aku tak ingin egois, Kai. Kau kira mudah mencoba menyukai seseorang. Aku bukan tipe orang yang mudah jatuh cinta kepada siapapun. Karena aku...."
"Busnya datang...ayo naik"
Poppy paham bahwa Kai juga mengerti posisi Poppy. Dia tidak ingin persahabatan mereka hancur karena keegoisan masing-masing. Kai mampu menempatkan dirinya sebagai sahabat, bukan sebagai seseorang yang ingin ikut campur dalam segala hal.
Hara melambaikan tangannya ketika menaiki bus yang sama dengan Kai dan Poppy. Mereka mengambil bangku paling belakang untuk dijadikan tempat terbaik berbagi cerita.
"Kai, bagaimana hari ini kau ikut latihan bersama kami?" Tanya Hara memandang wajah Kai yang melihat luar jendela.
"Kai....oi...Kai" Hara mencoba membuyarkan lamunan Kai.
"Hari ini aku harus bekerja paruh waktu"
Jawab Kai. Dan pandangan Poppy berubah tidak senang.
"Bukankah Papamu menyuruhmu untuk terapi, Kai" Poppy ikut dalam percakapan Hara dan Kai.
Hara melihat ke arah Kai yang masih melihat luar jendela.
"Jika kau sepesimis ini bagaimana aku bisa menyemangati junior kita" Hara membungkukkan bahunya karena sudah merasa lelah harus mengurus sendiri timnya.
"Masalah kemarin lalu, apakah sudah selesai?" Tanya Kai.
"Tak perlu kau bertanya Kai. Kalau hanya sepintas lalu saja" Hara memalingkan pandangannya ke luar jendela disebelahnya. Poppy yang berada diantara mereka juga merasa sedih melihat kedua sahabatnya masih bergumam dalam kedinginan rasa egois yang terlalu tinggi.
Ibas mengunjungi Molly yang sedang istirahat di asramanya. Molly terkejut melihat Ibas bersama seorang wanita yang bukan dia kenal.
"Hai, Molly!" Sapa Ibas bersamaan dengan wanita yang bernama Niken.
"Hai, Pa. Hai....tante!" Jawab Molly memandang lama wajah Niken.
"Dia Niken. Dia akan menjadi Birthday Organisermu nanti. Jadi, kalian mengobrollah dulu"
"Papi, Molly tidak butuh tante Niken. Molly butuh Papi dan Mommi saja. Molly ingin nonton bersama Papi dan Mommi"
Niken memasang wajah aneh, rancangan acara yang luar biasa sudah dia bicarakan dengan Ibas. Niken menggebu-gebu sekali, karena ajang itu akan menjadi momen yang tepat untuk menempatkan dirinya bersanding bersama Ibas.
"Niken, bisa tinggalkan kami berdua" pinta Ibas , dan Niken menurutinya Ibas. Meninggalkan Ayah dan anak itu menikamti waktu rahasia mereka dengan pembicaraan yang tidak boleh diketahui oleh siapapun, termasuk Niken.
Penampipan Asha yang memang urakan selalu membuat orang lain merasa bahwa dia tidak pantas menduduki jabatan sebagai menejer di Kafe Family itu. Senja berulang kali mengingatkan bahwa sebagai seorang manejer itu harus berpenampilan baik dan modis ketika sedang rapat personalia.
"Sudah kukatakan padamu, udah selera busanamu" Senja melirik kesal melihat sahabatnya itu.
"Memangnya ada masalah jika aku berpakaian seperti ini?"
"Salah sekali, Sha. Kau tahu, model berbusanamu ini buat sakit mata yang melihatnya"
"Benarkah, apakah matamu sakit? Aku lihat matamu baik-baik saja"
"Asha....ingat umurmu sudah 40 tahunan. Tidak pantas melakukan hal kekanakan seperti in"
Senja menampis tangan Asha yang hendak memeriksa mata Senja.
"Sebentar, Ibas menelpon" kata Asha yang menjauh dari Senja.
"Hai"
"Hmm...baiklah"
"Ok...ok..."
"Da...."
Asha mengakhiri pembicaraannya dengan Ibas.
Hari sudah sore, Asha harus kembali ke Kafe Family. Menyapa setiap karyawan. Disana sudah ada Poppy berbalutan seragam Kafe Family.
"Poppy, cantik sekali. Aku suka kau memakai seragam ini"
"Terima Kasih, Bu Manejer"
Bersama Senja Asha masuk ke dalam kantor. Senja beberapa kali mencoba melirik ke arah ruang karyawan, Namun dia tidak melihat yang dia cari.
"Kemana anak SMA itu?"
"Siapa?"
"Gebetanmu"
"Husssst....Kai. Aku lihat jadwal, sepertinya dia libur hari ini" Asha menunjukkan tabel jadwal harian karyawan yang masuk setiap harinya.
"Sayang sekali. Padahal aku mau merayunya. Entah apa yang dilihatnya darimu, Sha" Senja geleng-geleng kepala.
"Sebenarnya aku cantik dan menawan hanya kau saja yang buat aku terlihat kusam"
"Baiklah...aku pulang dulu. Persiapkan dirimu untuk inovasi Kafe yang baru dan rencana kita akhir tahun ini. Ga...Le...Ri"
"Ok..ok....hati-hati dijalan" Senja memeluk Asha dan berpamitan untuk pulang.
Ketika Senja keluar, terlihat Kai sudah berdiri di depan pintu ruangan Asha. Sambil mengerling ke arah Kai, Senja berbalik ke arah Asha yang sedang melongo melihat adegan Senja yang terkejut.
"Permisi, tante!" Kata Kai kepada Senja.
"Hah...!!! Tante.....Asha...!!!"
"Sudah sana kau pulang saja. Jangan mencari keributan disini, tante Senja. Hahahaha" Asha tertawa lepas melihat ekspresi wajah Senja yang terlihat kesal, karena Kai memanggilnya tante.
Kai masuk dengan membawa goddie bag berwarna merah. Pintupun tertutup ketika Senja keluar dari ruangan.
"Bagaimana kabarmu?" Tanya Asha pada Kai yang mencari tempat duduk yang nyaman.
"Aku sehat, bu Manejer. Ada hal yang ingin aku katakan"
"Apa itu?"
"Bolehkah aku bekerja setiap hari disini seusai pulang sekolah?"
"Eh, tentu saja boleh. Mengapa tidak" jawab Asha.
"Terima kasih"
"Tapi, tunggu dulu. Jika kau bekerja disini bagaimana dengan Baseball?"
Kai menunduk saat Asha melontarkan pertanyaan yang Kai sendiri malas untuk menjawabnya. Kai terdiam lama.
"Kai....bisakah kau membantuku?" Tanya Asha yang mendekati Kai.
Kai menegakkan kepalanya , melihat senyuman manis yang dia hampir lupa bahwa seseorang yang dihadapannya adalah orang yang membuat dirinya terpesona beberapa waktu lalu. Wajah yang teduh, penuh semangat, mata yang selalu berbinar dan senyuman yang selalu melengkung kapanpun.
"Sepertinya kau sedang bimbang?" Pertanyaan Asha tepat sekali, seperti terbaca dari ekspresi wajah Kai.
"Aku sedang bimbang, apakah aku harus melanjutkan impianku atau aku harus berhenti?"
Asha merasa terkejut mendengar Kai begitu pesimisnya.
"Kau masih muda Kai. Lanjutkan impianmu. Kau tahu, dari dulu aku menginginkan memiliki galeri sendiri. Tapi, karena aku lebih memilih mundur daripada maju aku tertinggal jauh dari teman-temanku. Aku menjadi minder ketika harus bertemu dengan mereka. Kepercayaan diriku semakin turun. Tapi, aku beruntung punya Senja yang selalu menyemangatiku untuk terus menggapai impianku. Dari dia aku berhasil mendapatkan impianku. Senja mengajakku untuk memenuhi isi galeri miliknya. Dan Dia menginginkan aku memotretmu, Kai. Sebelum mantan suamiku memberitahu keinginan Molly, Aku belum tahu kapan saatnya kau bisa di potret. Setelah aku mengetahuinya, saat yang tepat adalah ketika kau menggapai impianmu. Aku memberi judul folderku Kai is a Winner"
Kai terdiam, ada tujuan yang tersembunyi disana. Mata Kai berair karena terharu. Asha mewujudkan impian anaknya, ketika Kai menggapai impiannya dan Asha akan berhasil menggapai impiannya juga. Semua saling memiliki keterkaitan.
"Aku akan mewujudkan impian anakmu, impianku dan impianmu" kata Kai menggebu-gebu.
"Dasar anak muda, sering plin-plan. Harus ada korek yang harus membakar semangatnya!" Asha memukul pundak Kai lumayan membekas.
"Aduuuh....sakit bu Manejer"
Dibalik pintu Poppy menangis terharu mendegar percakapan mereka.
Tali yang saling memiliki keterkaitan itu adalah sebuah angin bernama impian.

Bersambug chapter 8.....