Jumat, 06 Februari 2015

You Are My Perfect One



You are my Perfect One
chapter 1
Gerimis
Namanya Andri Lara Syah. Seorang anak laki-laki masih berumur 13 tahun dan bersekolah disekolah negeri di daerah ini. Dan aku tinggal berdekatan dengannya. Namaku Giska Harumsari, berumur 14 tahun dan bersekolah di SMP swasta. Aku terkagum-kagum dengan seorang yang bernama Andri Lara Syah. Tak banyak yang mengetahui, tentang perasaanku. Bahkan keempat sahabatku tidak menengetahuinya. Aku pendam secara rapat-rapat perasaan ini. Andri adalah anak seorang salah satu staff pegawai bank negeri yang ada didaerahku. Bank satu-satunya masih negeri ditahun 2000 yang berdiri didaerah yang masih aku bilang tertnggal jauh. Setidaknya dari segi perekonmian.
Kembali ke Andri, dia seorang anak laki-laki yang pendiam dan sangat jarang terlihat kumpul bersama teman-temannya. Paling tidak aku hanya tahu beberapa orang teman yang sering berkumpul didepan rumahnya. Dan mereka adalah teman ketika SD di kota besar yang rela datang kerumahnya hanya untuk bermain sega dirumah Andri.
Kami selalu pergi kesekolah baersama, namun kami tak pernah menyapa. Lalu aku menyimpulkan bahwa dia orang yang sombong. Tapi, pagi itu berbeda. Pagi yang gerimis, dibawah pohon besar aku sedang menunggu angkot untuk kesekolah. Andri juga berada di bawah pohon yang sama denganku. Sesekali pandanganku melirik dari sudut mataku. Melihatnya sedang menampung titik-titik air yang jatuh dengan pelan dan sedikit itu. Sepertinya angin ini membawa aku kedalam suasana dimana waktu berhenti dan tak ingin melupakan momen yang indah ini. Dia, memandang keatas dan tetesan gerimis itu membasahi seluruh wajahnya yang terlihat pucat karena kedinginan.
Aku mencoba ingin menyapanya terlebih dahulu. Tapi, lidahku terasa kelu sekali. Untuk menggerakkan urat saraf bicaraku saja susah. Lalu aku memberanikan diri melihatnya, melihat wajahnya tanpa harus melirik lagi. Dan saat itu juga dia melihat kearahku, sambil tersenyum. Dia tersenyum, tersenyum jelas kepadaku. Kepalaku terasa ingin lepas dari leher. Jantungnya berdegup dengan kencang. Suasana dingin menjelma jadi hangat. Tubuhku diserang dengan perasaan aneh. Senyumnya, ya senyumnya begitu manis sekali, ada lesung pipi tepat dipipi kirinya. Aku ingat sekali bagaimana cara dia tersenyum padaku saat itu. Giginya yang kelinci, dan mempunyai gingsul yang tersembul manis ketika tersenyum. Hei…dia begitu tampan sekali pagi ini. Rasanya aku ingi teriak.
“tolong hentikan waktu ini. Biarlah tetap begini!”
Pagi itu, semangatku kembali menjadi seribu persen. Tak ada yang mengimbangi semangatku pagi itu. Kali ini dunia berpihak kepadaku. Semesta dan bahkan cuaca. Dan sejak itu aku menyukai gerimis. terutama gerimis dipagi hari.

Senin, 12 Januari 2015

Gold

Ada alkisah seorang wanita yang sedang dirudung rindu kepada seorang pria. Yang menurutnya pria inilah yang cocok untuk mendampinginya kelak. Jelas, mengapa wanita ini begitu merindukan pria ini. Pria ini sangat perhatian sekali. Dan perhatiannya itu lebih dari seorang teman-temannya yang lain. Makalah si wanita itu mulai tertarik dengan pria ini. Wanita ini menyambut setiap perhatian dan keluh kesah si pria. Bergulirnya waktu, semakin runitasnya berkomunikasi, semakin si wanita merasakan hal aneh. Si wanita tak urung makan, tak nyenyak tidur bahkan tak urung melakukan hal-hal apapun. Inginnya hanya mengobrol dengan pria itu. Inginnya selalu mendengar suaranya, inginnya selalu bertemu. Namun, sang pria tak juga memberikan kepastian, tentang perhatiannya itu. Tak diberikan kejelasan tentang hubungannya. Apakah mereka berteman atau terselip sesuatu itu dari pertemanan itu. Si wanita mulai berdiam, rasa yang menggebu-gebu pada awal itu sedikit sirna. Dan dalam waktu yang cukup lama barulah si pria berkata :
"Maukah kau jadi pacarku?"
"Pacar???" si wanita itu terdiam bingung harus menjawab apa.
"Iya. Mau gak?"
"Aku gak mau jadi pacar kamu, tapi ---" belum lagi selesai si wanita itu berkata.
"Oh...baiklah" jawab si pria itu sedih
"Tapi aku ---" sambung siwanita yang diabaikan oleh pria itu.
"Ya aku tahu, tapi kita lebih cocok berteman kan" pernyataan pria itu sontak membuat si wanita itu sedikit kecewa. Mengapa pria itu berpikir seperti itu. Padahal si wanita cuma ingin mengatakan.
"Aku gak mau jadi pacar kamu, tapi aku maunya jadi istri kamu" namun kalimat itu tidak terlontar dari mulut wanita itu.
Si priapun berlalu dan mulai mengurangi segala perhatian dan obrolan. Prilakunya berubah. Si wanita bisa apa. Gengsi dan cara berpikirnya yang sangat keras kepala. Dan si priapun yang sudah berspekulasi atas pikirannya sendiri.
Untuk apa diteruskan. Lebih baik dijalan masing-masing. Intinya seberapa kau menyukai seseorang dan mencintainya segenap ragamu belum tentu itu akan mendampingimu nanti. Jika sudah ada usaha, namun tidak dipersamakan. Maka, itu belum jodoh.


Silent is Gold
Not to be gold when you are not patient
Be someone important for someone
#teru setori