Selasa, 04 Agustus 2015

One Year

- love in February -

Tak terasa dari pertemuanku dengan Evan sebulan lalu. Membuat hidupku menjadi berubah sedikit demi sedikit. Ada hal yang tidak bisa aku ungkapkan dengan akal. Semua begitu mengalir saja. Rutinitas Evan yang sering menghubungiku terlebih dahulu. Menanyakan kabarku setiap hari. Bahkan terkadang Evan suka bercerita mengenai pekerjaannya yang menurutnya begitu melelahkan. Aku tahu benar, menjadi pengacara itu tidak mudah. Terkadang Evan juga memberikan motivasi untukku dan beberapa nasehat. Rasanya, kami sudah akrab sekali. Aku tahu sekali hobinya. Evan membuka semuanya kepadaku. Bahkan sampau hal terkecil apapun itu.
Lalu, tibalah disebuah malam yang berangin. Aku sedang mendengarkan lagu-lagu favoritku sambil mengerjakan tugas kantorku yang masih menunpuk dimeja kerjaku. Bahkan aku belum kerja pukul 9 malam. Sebuah getaran berasal dari atas meja kerjaku mengusik pekerjaanku. Aku melihat nama yang tertera di layar handphoneku. Evan. Aku langsung menganggkat cepat telponnya.
"Hallo!" Sapaku
"Malam, lagi ngapain kamu, Sei?"
"Aku masih dimeja kerjaku. Dikantor. Tugasku numpuk" keluhku
"Jadi, aku ganggu gak?"
"Eh...gak kok" respek aku langsung menjawabnya tanpa berpikir bahwa kerjaanku masih menunpuk banyak.
"Sudah makan belum. Jangan terlalu diporsir banget kerjanya. Kalau lelah, ya istirahat" perhatian Evan yang seperti ini jarang sekali aku temukan dari teman-teman sekantorku. Aku merasa spesial ketika ngobrol dengan Evan.
"Sudah, kok. Ya, ini juga lagi istirahat"
"Jadi, apa yang bisa aku bantu?"
"Hehehe..bantuin doa aja deh. Semoga tugas ku selesai malam ini"
"Kalau itu selalu aku lakukan kok. Berdoa untukmu" rasanya telingaku sedikit membesar.
"Hehehe...jangan gombal akh!"
"Aku serius kok, Sei"
"Tapi itu berlebihan. Emangnya aku siapa kamu. Kok kamu mau ngedoain aku segala"
"Kamu spesial buatku"
"Spesial?"
"Iya"
Aku terdiam sejenak. Aku spesial. Bukankah kita hanya teman sekolah. Yang baru sebulan yang lu bertemu di lobby hotel langit biru. Mataku memandang jauh menembus dinding kantorku. Aku, baru sekali bertemu denganny. Bahkan itu adalah pertemuan pertama, dan sampai sekarang juga belum bertemu lagi. Karena jarak tempat Evan bekerja berjauhan dengan tempat kerjaku. Aku terbengong beberapa saat dalam pikiran yang aneh-aneh.
"Seira!" Panggil Evan dari balik teleponnya
"Ya..." sahutku kaku
"Kok diam aja. Emang kenapa? Sibuk ya?"
"Eh..gak kok..!!! Aku sedang berpikir aja"
Apa aku harus mengatakan apa yang ingin aku katakan. Tapi, aku ragu. Aku takut suasananya menjadi berubah. Jadi, aku biarkan saja permainan yang Evan buat itu dimulai. Aku adalah orang spesial baginya.
"Berpikir apa?"
"Berpikir apa ya....hehehehe"
"Hehehe...yauda deh. Kamu sibukkan. Ntar kalo uda pulang kerja kasi tau aku ya?"
"Hehehehe..iya"
"Malam!"
"Malam juga"
Aku menghempaskan tubuhku disandaran. Mencoba melegakan pikiranku. Berhenti memikirkan kata-kata spesial yang keluar dari mulut Evan. Sebenarnya itu membuatku shock seketika. Mati rasa, tapi aku tidak mau salah paham dengan kata-kata spesial itu. Sepertinya aku harus mengikuti permaianan spesial dari Evan.
"Cie..cie..Seira. Sedang jatuh cinta" bisik Yana yang sedari tadi menguping pembicaraan Aku dan Evan
"Jatuh cinta?" Aku terheran dengab kata itu. Kapan terakhir aku jatuh cinta. Kurasa ketika aku sekolah dulu.
"Iya...kamu lagi kasmarankan.  Dari tadi kok nelponya pake senyum-senyum melulu. Siapa cowo itu?"
"Eh...dia teman sekolah aku"
"Pas deh kalo gitu. Ceritanya teman sekolah yang membuat jantung berdebar-debar" Yana mulai meledekku.
"Eh...ga kok. Aku biasa-biasa aja"
"Seira...kamu itu mudah ditebak. Bahkan orang juga bakalan tay kalau kamu itu sedang jatuh cinta"
"Eh...ga kok"
Aku juga sedang bingung. Apakah aku memang benar-benar jatuh cinta atau sedang apa ini.
Tapi, ketika Yana menjelaskan ciri-ciri orang yang sedang kasmaran. Aku lebih banyak mengangguk setuju daripada menggelengkan kepalaku. Yana, juga membicarakan apakah Evan juga sedang kasmaran. Ternyata, apa yang dikatakan Yana ada benarnya. Kepalaku dipenuhi hal-hal aneh.
Tapi, aku rasa Yana berkata benar. Aku sedang kasmaran kepada teman sekolahku dulu. Yang baru berjumpa sebulan yang lalu. Akibat seringnya kami berkomunikasi. Bahkan sehari bisa 3 kali menelpon bahkan untuk pesan singkat setiap jam selalu ada saja dari Evan. Dan aku merasa senang sekali. Bahkan terkadang aku merasa kehilangan ketika Evan tidak mengirimkan pesan singkat padaku di waktu yang sama.
Apakah ini cinta???
Aku juga tidak tahu...
Apakah aku sedang kasmaran??
Aku juga tidak tahu...

One year

- i saw you on January -

Ini pertama kalinya aku mengikuti pelatihan di lingkungan kerjaku. Aku yang kaku terhadap orang-orang sekitar sengaja di ajukan oleh pimpinan perusahaan mengikuti pelatihan ini. Menurutku ini pelatihan yang sangat membosankan. Karena seperti biasa aku adalah orang yang tersingkir jika dalam kelompok seperti ini. Dan biasanya aku hanya sebagai orang yang gagu dalam menjelaskan ide-ide yang ada didalam kepalaku.
Aku segera membenahi semua keperluan pelatihan. Terutama bahan yang akan di jadikan materi selama pelatihan. Memerikasa kembali barang bawaan. Lalu, membuka kembali koper yang berisi pakaian. Dan memeriksanya, mana tahu ada yang ketinggalan. Ternyata semua sudah lengkap. Perlengkapan mandi juga sudah tersusun rapi didalam koper.
Menghela nafas sejenak. Dan melihat jam sudah pukul 8 pagi. Menurut surat tugas yang diberikan padaku. Bahwa para peserta pelatihan harus melapor ke panitia terlebih dahulu. Setelah itu check in ke hotel yang sudah tertera didalam surat tugas itu. Disitu tertulis jam 12 paling lama sudah melapor kepanitia.
Koper yang penuh dengan perlengkapanku sehari-hari ku geret keluar rumahku. Sembari menunggu taxi, aku mengirimkan pesan singkat ke salah satu rekan kerjaku yang menurutku bisa di percaya.
"Yan...kantor aman, kan?"
"Aman kok, Sei" balas Yana
"Syukur deh"
Sebuah taxi berwarna biru yang berlambangkan burung itu menghampiriku. Sebuah taxi yang aku pesan dari jam 7 pagi tadi. Si supir segera turun dan membawa koperku dan meletakkannya di bagasi yang berada di belakag mobil. Si supir tersenyum ramah kepadaku. Sambil bertanya.
"Mau kemana, mbak?"
"Ke hotel langit biru,pak"
Dan si supirpun melaju dengan kecepatan sedang.
Hari ini, jalanan tidak begitu macet. Tidak seperti biasanya. Lagitpun tidak terlalu cerah. Seperti aku yang sedang merasa bimbang memikirkan. Bagaimana aku dipelatihan nanti. Apakah aku akan mendapatkan teman, atau aku akan langsung dikeluarkan dari kelompok pelatihan. Begitu banyak pikiran yang hilir mudik didalam kepalaku sehingga membuat aku merasa mual.
"Sudah sampai , mbak" supir taxi itu membuyarkan lamunanku
"Oh...iya, Pak" aku mengeluarkan uang seratus ribu dan membayarkannya ke si supir taxi itu.
"Makasi ya , mbak"
"Iya, pak"
Ternyata sudah ramai di lobbi para peserta pelatihan. Mereka memadati meja resepsionis. Pandanganku keliling lobbi, mencari tempat duduk. Ada bangku kosong yang berada di sebelah kiri meja respsionis. Sembari menunggu giliran, aku melapor ke meja panitia yang bersebelahan dengan bangku kosong itu. Memberikan surat tugas yang aku bawa. Lalu aku diberikan secarik kertas yang akan diberikan ke resepsionis.
Ramai sekali. Dan tak ada satupun yang aku kenal. Mataku tak hentinya melihat sekeliling ruangan lobby itu.
"Seira?" Sebuah suara datang dari depanku. Pandanganku mengarah suara itu. Mataku menyipit, mencoba mengingat siapa yang memanggil namaku itu.
"Eh..." aku tersenyum menampakkan gigiku
"Aku Evan. Teman sekolah kamu dulu. Tapi, kita tidak sekelas"
"Evan?" Aku mencoba mengingat sebuah nama, dan itu adalah Evan.
"Lupa, ya"
"Iya. Hehehehe"
"Aku Evan, yang pernah di sukai sam teman sekelasmu si Rena"
"Oooohhh....." aku baru mengingat Evan yang dimaksud.
"Inget?"
"Eh...iya..iya. kok kamu beda banget ya. Sepertinya waktu sekolah dulu kamu kurus banget deh"
"Hehehe...pertumbuhan dan pertambahan usia juga ini"
Hatiku, sedikit lega. Setelah bertemu dengan Evan. Setidaknya ada teman mengobrol sambil menunggu check in kamar. Kami banyak mengobrol. Aku juga heran, mengapa aku bisa mengobrol banyak dengan Evan. Biasanya aku paling tidak bisa mengobrol lama dengan orang lain, apalagi dengan laki-laki. Sepertinya kisah sekolah dulu terulang lagi. Aku sering tertawa ketika Evan mulai meceritakan mengenai guru-guru. Terkadang Evan juga tertawa lepas mendengarkan keluhanku mengenai guru-guru yang suka memberikan PR banyak.
"Hehehe...senang deh ketemu teman sekolah dulu" kataku mengakhiri tawaan kami yang mulai mengundang pandangan aneh dari orang-orang sekitar.
"Iya...rasanya bernostalgia kembali. Oh..iya. Ngomong-ngomong aku boleh minta nomor handphone kamu?" Evan mengeluarkan handphonenya dari saku baju.
"Eh...boleh" aku menyebutkan angka-angka yang dimaksud. Dan Evan mulai menyentuh layar handphonenya. Dengan cepat jempol-jempolnya menari di atas layar sentuh itu.
"Kapan-kapan bolehkan aku menelponmu?"
"Eh...boleh kok"
Evan beranjak bangkunya. Kedatangan Evan ke hotel ini adalah untuk menghadiri pesta temannya yang berada dilantai 5 hotel. Dan dia melihatku yang sedang duduk sendiri, makanya dia menghampiriku. Dan akupun ke meja resepsionis mengambil kunci kamarku. Setidaknya pelatihan kali ini, aku mendapatkan kisah yang seru. Bertemu dengan Evan, teman sekolahku.
"Hai..." sebuah pesan singkat menggetarkan handphoneku. Ternyata dari nomor baru yang tidak bernama.
"Hehehe...hai juga Evan"
"Kok tau aku, Evan"
"Feeling aja!"
"Ok...simpan ya nomorku"
"Iya"
Aku langsung menyimpan nomor Evan. Sambil tersenyum-senyum aneh sepanjang lorong hotel menuju kamarku.
Sebuah tempat tidur yang sepertinya empuk itu sudah memanggil-manggilku untuk aku tiduri. Rasanya, kok beban sedikit berkurang. Aneh sekali, seperti ada yang menyihir semuanya. Bahkan tadi aku kelihatan resah dengan pelatihan ini. Tiba-tiba saja semua terasa lebih ringan.
Hei...apa yang terjadi padaku.