Sabtu, 05 Agustus 2017

Lika

Ini pertama kalinya Lika naik pesawat sendirian. Biasanya ditemani oleh Eyang
hanya sekedar menemui papa yang ada di pusat kota negara dan mamanya yang sedang berada di ujung negeri.
Lika mempunyai seorang Papa yang bekerja sebagi abdi pelayanan kesehatan masyarakat di ibukota negara. Sedang mamanya seorang abdi pelayanan pendidikan untuk mahasiswa diujung timur negeri. Orang tuanya sudah lama berpisah, bukan bercerai. Orang tuanya berpisah demi mengejar karir impian mereka masing-masing. Hingga Lika harus tinggal bersama eyangnya di sebuah desa dimana orang tua Lika menghabiskan hidup dimasa kecilnya dulu.
Lika menaiki anak tangga penghubung antara bandara dan pesawat. Walaupun sendirian Lika sudah seperti terbiasa dan berani sendirian.
Kata "hati-hati dijalan, dan hubungi aku setelah mendarat" adalah kata mujarab yang membuat Lika tersadar bahwa masih ada Kalli dan beribu penghuni langit lainnya yang sedang bersama dirinya menyebrangi pulau dari ketinggian 3600 kaki.
Setibanya pesawat nasional milik negara itu mendarat dikota pelajar Lika langsung mengabari Kalli. Tak ada balasan cepat. Lika paham hal itu, Kalli sedang kuliah. Setelah mengirimkan pesan singkat kepada sahabatnya itu, Lika langsung menghubungi pihak universitas.
Lalu Likapun bermalam di mess dekat universitas.
Kini dia terlihat sendiri. Hari-hari baru ini dimulai dengan sangat berat. Bukan berarti Lika harus menyerah sekarang. Ketika impian dari kecilnya musnah. Ketika dia harus mengikhlaskan orang tersayangnya pergi untuk meninggalkan dirinya untuk selamanya. Semua itu hanya sebagian kecil. Lika bagaikan langit, bukankah tampak indah dengan cahaya bintangnya.
Angin dipertengahan musim membawa Lika memulai kehidupan barunya.
Disuatu sore yang sedang berhujan. Lika kedatangan seorang tamu.
"Apa kau baik-baik saja , Lika?"
"Mama tidak perlu khawatir, aku sudah biasa melakukan apapun sendiri. Mama apa kabar?" Tanya Lika sekembalinya dari dapur setelah membawa senampan minuman dan makanan.
"Mama baik-baik saja. Bagaimana kuliahmu, berjalan lancar?"
"Sampai saat ini lancar, Ma"
"Mama punya banyak kenalan di kampus itu. Jika kau butuh bantuan hubungi mereka, sebut nama mama"
"Ma, Lika sudah berumur 18 tahun. Sebentar lagi 19 tahun dan tak terasa akan masuk ke 20 tahun. Lika sudah dewasa , Ma"
Mamanya terdiam sejenak. Tidak menyangka anak semata wayangnya berkata seperti itu. Dan itu membuatnya untuk berpikir, bahwa sepertinya Mama harus melepaskan karirnya. Sudah 18 tahun Lika tinggal bersana Eyangnya. Bagi Lika orang tuanya hanyalah sebagai orang tua di catatan kependudukan. Mamanya sambil menggenggam kertas salinan pengumumab beasiswa untuk Lika. Awalnya mama ingin memberitahukan Lika beasiswa tersebut. Mama punya banyak kenalan petinggi universitas. Apasalahnya memasukkan satu nama untuk menjadi Lika sebagai mahasiswa berprestasi dan melanjutkan kuliah ke luar negeri. Namun, pernyataan itu tadi membuat hati mama remuk. Ternyata Lika sudah dewasa.
Hari demi hari menjalani perkuliahan, Lika merasa senang. Bertemu teman baru, mandiri, belajar giat, perpustakaan dan berkumpul dengan teman-teman satu hobi, photografi.
Jelang siang itu Lika menuju perpustakaan yang merupakan tempat favorit Lika dikala tidak ada mata kuliah. Rasanya ketika Lika masuk kedalam perpustakaan dia menemukan dunia baru. Ada banyak kehangatan disana, ada banyak pintu dunia terbuka disana.
"Permisi, disini ada orangnya?" Tanya Lika pada seorang penghuni tetap perpustakaan, sama seperti dia. Akan tetapi, Lika tidak pernah berkenalan dengannya.
Pria itu menggelengkan kepalanya. Lalu Lika pun duduk berhadapan dengan Pria berkacamata itu.
Membolak balik halaman buku mencari informasi mengenai teorema-teorema penyelesaian soal mengenai aljabar.
Suasana yang nyaman dan tak berisik juga menjadi alasan mengapa Lika menyukai perpustakaan.
"Jurusan matematika?" Tanya Pria tersebut di beberapa jam berikutnya. Lika mengangkat wajahnya dan menunjukkan buku kalkulus yang dibawanya dari rak buku sambil mengangguk-anggukan kepalanya.
Pria itupub juga menganggukan kepalanya sambil tersenyum.
Untuk mencairkan suasana Likapun mulai bertanya. Merekapun memulai perbincangan ringan yang membawa mereka pada sebuah takdir baru. Takdir di musim yang beranjak mendaki dan menurun serta menikung, hingga akhirnya langit kembali menyapa Lika.
Keakraban yang dijalin Lika menyebar seantero kampus. Pasangan serasi itu adalah julukan untuk mereka berdua. Mereka tak pernah berkencan seperti kebanyakan mahasiswa lainnnya. Mereka lebih baik membaca buku, dan berdiam sejenak lalu berbagi informasi mengenai apa yang telah dibaca setelah keluar dari perpustakaan.
"Lika, kau sedang pacaran dengan Prima?"
"Tidak"
"Lalu, mengapa kalian sering terlihat berdua?"
"Mungkin karena kami sering bersama. Hahahahaha"
Pria tersebut bernama Prima. Seorang mahasiswa pendidikan teknik. Seorang yang mirip dengan Kalli. Lika merindukan sahabatnya itu. Prima memiliki impian yang besar, bahkan Lika terkejut mendengar impian itu. Membangun sekolah gratis dengan fasilitas yang lengkap. Begitu ujar Prima pada suatu sore, ketika mereka baru selesai membaca buku mengenai sebuah impian.
"Mimpimu apa Lika?" Tanya Prima membetulkan kacamatanya. Lika dian sejenak, bukan karena bingung harus menjawab apa. Akan tetapi, impian Lika dan Prima saat itu sama.
"Sama seperti impianmu!"
"Waaah....kebetulan sekali. Ayo, sama-sama membangun mimpi kita jadi nyata" kata Prima bersemangat.
Bertemu dengan takdir bernama kebetulan, akan ada banyak kebetulan-kebetulan yang muncul dikehidupan Lika berikutnya. Walaupun Lika tahu bahwa kebetulan itu tidak ada. Tapi, Lika menyukai kata kebetulan itu sebagai bahwa langit sedang menyapa dan mengobrol dengannya. Kehidupan Lika selama dikampus sangat begitu bahagia sekali. Tidak ada yang mampu membendung kebahagian Lika bersama orang-orang baru. Bahkan hujan deraspun tak mampu menghentikan kebahagiaannya.
"Aku menyukai kehidupan ini. Kebahagiaan ini berawal dari airmata yang tak sengaja tumpah begitu banyak dimusim lalu. Bukankah langit sudah berjanji bahwa setelah turun hujan akan muncul pelangi di langit biru. Berwana warni menghiasi luasnya langit diatas sana".

Jumat, 04 Agustus 2017

Lika

Berkali-kali Lika membolak balik halaman buku try out miliknya. Berkali-kali juga terdengar suara tiupan angin yang berpadu dengan kertas sehingga memantulkan suara yang akan dirindukan  dimasa yang akan datang. Karena Lika yakin bahwa usaha tidak akan mengkhianti hasil, begitulah kata orang.
Setiap hari les bimbingan belajar seminggu full selama 2 jam. Belum lagi mengerjakan soal-soal try out masuk universitas bergengsi lainnya ketika dirumah. Waktu bermain, abaikan saja. Lika suka sangat puas untuk bermain. Sejak TK - SMP , Lika menghabiskan hidup masa remajanya dengan bermain. Kini, dia harus bertangung jawab atas pilihannya sendiri. Sebab dia sudah dewasa.
Masa depannya ada di langkah kakinya , namun tetap di tangan Tuhanlah takdir yang belum diketahuinya.
Dering suara ponselnya menghilangkan kosentrasinya ketika menjawab soal matematika dasar yang sangat mudah baginya.
"Hallo!" Sapa Lika.
"Hallo!, Lagi apa?"
"Ini siapa?" Tanya Lika heran.
"Ini Kalli!" Kalli menghembuskan nafas kecewa.
"Astaga. Maaf. Aku gak liat layar ponselku. Ada apa?"
"Kau sedang apa?"
"Menyelesaikan masalah persamaan"
"Persamaan apa"
"Linier lah"
"Hahahaha, kau sedang belajar ya. Maaf ganggu. Terus semangat. Aku cuma mau beri tahu besok ada acara dirumah. Syukuran aku diterima di fakultas kedokteran. Kau harus datang"
"Besok. Aku tidak bisa janji"
"Aku tak minta janji, Lika. Aku minta kau datang"
"Baiklah, baiklah. Aku akan berusaha menyelesaikan soal-soal matematika dasar besok hari ini"
"Terima Kasih"
Mata panda, kata orang begitu. Lingkaran hitam sudah terlihat jelas di mata Lika. Kurang tidur, waktu dihabiskan untuk menyelesaikan pertanyaan-pertanyaan. Selain harus mengasupi pikiran, Lika juga harus mengasupi tubuhnya agar tetap sehat dan bugar , walaupun kurang tidur. Eyangnya, selalu membuat puding susu terbaik untuk menemani hari-hari Lika. Berbagai macam jus buah selalu tersedia dipagi hari. Eyang memang selalu perhatian terhadap Lika.
Namun, pagi itu. Eyang tak tampak mendekati kamar Lika. Suasana hening, angin musim itu juga membawa kenangan Lika bersama dinginnya suhu pagi itu.
"Eyang!Eyang!"
Tak bergeming, membeku, mendingin, dalam katupan mata yang tertutup. Berselimut duka dengan perihnya hati. Lika menghancurkan pertahanannya. Airmatanya mengalir sederas mungkin. Tak pernah terbayang olehnya harus berpisah secepatnya ini dengan Eyangnya. Belum lagi sembuh luka hati karena kegagalan, kini Lika harus dihadapi dengan luka hati karena ditinggalkan orang tercinta. Sungguh, setega itukah langit terhadapnya.
Sedu sedan, mengharu biru  dirumah eyangnya. Semua berkumpul, sanak saudara termasuk orang tua Lika.
Lika, tak tahan. Dia butuh sokongan. Dan sokongan itupun datang dengan napas yang terburu-buru. Berlari sekuat tenaga. Mengayuh sepeda  hingga kakinya terasa kebas. Sokongan itu tiba didepan pintu, membawa wajah yang begitu menyedihkan. Airmatanya tak terbendung, bahkan sokongan itupun menangis sedih karena kehilangan dan karena menangisi takdir yang menimpa sahabatnya itu.
Mereka saling berpelukan. Pelukan sahabat. Pelukan sebagai sokongan untuk tetap tegar.
"Kau harus kuat"
"Aku kuat, Kalli"
"Aku tahu"
Bahkan ini seperti drama kehidupan yang sering di tonton oleh para ibu-ibu komplek. Sebagai bahan perbincangan mereka betapa malangnya gadis ini harus kehilangan eyang, kesayangannya itu.
Lika melepaskan pelukan Kalli berlahan.
"Bagaimana acara dirumahmu?"
"Aku batalkan. Aku tidak bisa berhaha-hihi. Sedangkan sahabatku menangis disini"
Kalimat itu, cukup bagi Lika bahwa dia tidak sendiri. Selain para penghuni langit ada satu penghuni bumi yang selalu setia menemaninya ketika merapa ingin jatuh.
Tubuh dingin itu, terbenam dengan kenangan bersama tanah. Rasa rindu, sudah merasuki perasaan Lika saat itu. Yang Lika tahu, kali ini langit tidak sedang menegurnya. Akan tetapi langit sedang berbicara dengannya. Langit sedang berbicara lembut ke relung hatinya. Bisakah Lika menyambut perbincangan dengan langit kali ini.
Sebulan berlalu, Lika harus mandiri sebelum masuk ke universitas. Kesempatan lain menanti. Lika mencoba mengikuti ujian bersama di 5 universitas yang saling bekerja sama. Lika memilih 2 pilihan. Teringat perbincangannya dengan Eyangnya seminggu sebelum meninggal.
"Eyang ingin sekali kau menjadi guru, Lika"
"Eh, aku gak cocok jadi guru. Eyang. Aku ini tidak sabaran , aku juga suka marah-marah"
"Tidak, eyang yakin kau bisa jadi guru. Takdir akan memberimu kesabaran dan ketulusan"
"Tapi..."
"Cobalah. Eyang akan selalu mendoakanmu. Selalu. Walaupun sampai eyang tak terlihat nanti"
Lika memejamkan matanya sebelum menulis pilihannya itu. Berpikir berkali-kali. Ingin bertanya kepada Kalli, namun jika dia lulus dikesempatan ini. Maka Kallilah orang pertama yang akan terkejut. Lika merahasiakan sementara ujiannya dari Kalli.
Sambil menarik napas, dengan keyakinan penuh 100%, Lika mengabulkan keinginan impian eyangnya. Maka seperti ada cahaya baru, ada beban yang sedang terbang dari pundaknya. Beban yang tak terlihat, seperti senyuman eyang yang sedang memandang dari kejauhan cucu kesayangannya itu.
Semoga kali ini langit merestui pilihanku.
Hasil ujian langsung keluar ketika waktu ujian telah usai. Skor yang memuaskan. Hati Lika bukan kepalang bahagianya. Lika lulus di Universitas nomor 1 dinegeri ini untuk fakultas pendidikan jurusan matematika dengan akreditasi A.
Lika berlari menuju fakultas Kalli. Dari pintu utama menuju fakultas kedokteran itu Lika berlari sekuat tenaga. Hasratnya ingin memberitahu sahabatnya yang selalu ada untuknya. Nafas Lika tersengal-sengal. Kalli sedang duduk bersama teman-teman barunya.
"Lika! Apa yang sedang kau lakukan disini?"
"Aku...ngos...ngos....aku"
"Iya kenapa?. Sebentar ya, aku permisi dulu. Ayo, kesana" ajak Kalli pamitan dengan teman barunya itu.
"Aku lulus"
"Appppaaaaa!!. Kau berlari kesini hanya untuk membertahuku kau lulus. Mengapa tidak dari ponsel saja sih. Lihat, kau berantakan sekali"
Lika menggelengkan kepalanya.
"Aku suka memberitahumu secara langsung. Bahwa ini pertemuan terakhir kita"
Seperti ada kilatan setrum menusuk hati Kalli. Pertemuan terakhir. Kebahagian ini merupakan kesedihan yang teramat perih. Kehilangan teman. Jarak yang memisahkan, sungguh rindu itu sudah muncul dihari dimana matahari senja mulai memerah di ufuk barat.
"Bahagia yang terlalu akan menggelapkan logikamu. Bahwa kau tidak sadar, komunikasi sekarang bukankah sudah canggih. Kau malah memilih berlari berkeringat demi membaritahuku. Apa yang sedang terjadi padamu. Aku rindu itu. Kegigihanmu, kecerdasanmu, keserba bisaanmu"
Langit yang memerah itu memberi warna baru dalam hembusan angin dilembaran berikutnya. Meminta diberkahi dalam proses dan merestui hasil. Benar, kata mereka bahwa yang tak pernah berkhianat adalah antara usaha dan hasil. Mungkinkah itu akan membawa Lika kedunia barunya.
Kota pelajar sedang menantinya, 4 tahun bersama kesepian yang terselubung.